| Cerpen Akmal Nasery Basral Dimuat di Jawa Pos 09/10/2006 |
"NAK Nila? Ada apa denganmu,
Nak?"
Ibu Surti memeluk tubuhku dengan cemas. Tubuhnya terlalu besar untuk sel sempit ini. Keringatnya sangit seperti berkilo-kilo ikan busuk teronggok di los pasar. Aku pusing menghirup bau ini. Tapi aku lebih tak mampu lagi menahan sakit di kepala seperti dirajam puluhan jarum. Selama 15-20 menit yang menggila aku bertarung untuk tidak menyerah. Badanku bergetar hebat seperti tebing siap longsor.
"Nak Nila, ibu panggilkan penjaga ya? Kamu membuat ibu ngeri."Aku menggelengkan kepala dan bangkit dari kasur. Aku remas kepala semakin kuat. Deraan ini tidak akan lama, meski setelah semuanya berakhir kedua tanganku pasti dipenuhi gumpalan rambut rontok. Aku benturkan kepala ke tembok untuk meredakan rasa sakit. Mula-mula hanya ayunan lembut. Buk! Lalu seperti pendulum yang mendapat gaya lenting semakin besar, ayunan kepalaku juga semakin bertenaga. Betapa nikmat.
Ibu Surti mencoba menghalangi dengan tangan gempalnya seperti lemur sapi tergantung di rumah jagal. Aku ingin menyuruhnya menjauh, namun sulit sekali membuka mulut. Aku hantamkan kepalaku ke tubuhnya. Ia melolong kesakitan, dan spontan menarik tubuhnya menjauhiku. Ini kali ketiga Ibu Surti menyaksikanku menduelkan kepala dengan dingin tembok semudah perempuan lain merebahkan kepala mereka di dada kekasih.
Tetapi perempuan gemuk di depanku ini bukan orang yang cepat belajar. Ia abai melihat pola yang terjadi berulang kali di depan mata. Tak heran jika ia dilancungi suami dan adik perempuannya sendiri yang bertukar nafsu sepanas magma Merapi. Baru pada perselingkuhan mereka yang kedelapan Bu Surti menyaksikan keduanya bergelut di ranjang, di kamarnya sendiri. Mereka tersenyum ke arahnya begitu mengetahui Bu Surti memergoki laku cabul itu. Tapi ia tak menghardik, apalagi menangis. Ia hanya keluar kamar.
Beberapa menit kemudian tetangga mendengar lengking kematian. Mereka menghambur ke rumah Bu Surti, dan ternganga melihat di dada suaminya tertancap sebuah obeng. Lelaki itu mati dengan mata melotot. Di sampingnya terbujur mayat perempuan muda yang dikenali sebagai Mayang, adik bungsu Bu Surti. Lambungnya robek. Kemaluannya sobek, tertikam ulekan gado-gado yang dibiarkan tergolek. Kini giliran tetangga yang paling berani pun menjerit panjang.
Mereka sudah lama tahu laku jalang yang dilakoni suami Bu Surti dan Mayang. Tapi tak seorang pun memberi tahu. Bukan karena mereka tak menyayangi Bu Surti, melainkan karena ingin menyaksikan sebuah drama, sebuah tontonan yang lebih nyata dibandingkan sinetron televisi. Mereka bayangkan akan pecah perang mulut antara Bu Surti dan suaminya yang jauh lebih dahsyat dibandingkan bentrok dua kelompok preman kampung. Mereka nantikan saat-saat pengusiran yang bakal dialami Mayang setelah Bu Surti merajamnya dengan berton-ton kata.
Pendeknya, mereka ingin menyaksikan sedikit "hiburan" sebelum benar-benar membantu Bu Surti nanti. Ya, nanti. Mereka butuh sebuah tontonan gratis yang bisa dilakukan tanpa perlu keluar rumah. Cukup dengan menempelkan kuping ke bilik bambu, atau pura-pura sibuk di depan pintu.
Mereka hanya tak mengira semuanya berakhir begitu cepat. Tak ada perang mulut, atau pengusiran yang menggelegar. Di mata mereka kini hanya terlihat sebuah obeng, sebilah pisau, dan ulekan gado-gado. Ketiganya mengantarkan Ibu Surti menjadi penghuni seumur hidup penjara wanita. Ia lolos dari hukuman mati karena media massa bertubi-tubi mewartakan kisah sedihnya yang membuat pembaca bersimpati. Mungkin juga bagi jaksa dan majelis hakim.
ITU kisah yang kudengar dari mulut Bu Surti ketika aku baru masuk sel busuk ini dua pekan lalu. Saat itu aku heran bagaimana mungkin perempuan dengan wajah sepasrah Bu Surti bisa menghilangkan dua nyawa sekaligus. Maka dari mulutku meluncur sederet tanya yang tak dapat kucegah.
"Pisau dan obeng itu…?" Suaraku tersangkut di tenggorokan.
"Pisau, obeng, dan ulekan itu," Bu Surti meralat ucapanku, "tiba-tiba saja muncul di kepala seperti ada yang membisiki."
"Membisiki. Siapa yang membisiki?"
"Ndak tahu. Suara itu bilang mereka harus mati."
"Jadi karena itu ibu mempersiapkan peralatan?"
"Saya ndak mempersiapkan apa-apa. Suara itu yang menggerakkan tangan saya mengambil pisau dan lain-lain."
"Apa katanya?"
"Surti, kau mesti jaga harga dirimu sebagai perempuan."
"Ibu yakin mendengar suara itu?"
"Begitulah yang saya dengar." Wajahnya mengeras. "Saya ndak salah. Gusti Allah mengerti yang saya lakukan."
"Ya Bu," aku tak tahu harus berkata apa lagi. "Hanya Gusti Allah yang bisa mengerti apa yang ibu dan saya lakukan."
"Memangnya apa yang Nak Nila lakukan?"
"Panjang ceritanya, Bu."
"Kasihan sekali kamu semuda ini sudah hidup di penjara. Wajahmu cantik, badanmu bagus. Pasti banyak lelaki yang ingin jadi suamimu."
Aku seperti mendapatkan ibu baru, sehingga aku merebahkan diri di badannya yang sangat lebar. Pada saat yang sama aku baru sadari bau tubuhnya yang bacin. Rasa mual langsung menggelegak. Aku muntah di hari pertamaku di sel. Bu Surti kembali mengelus rambutku dengan ramah. "Memang begitu kalau pertama kali di penjara. Tubuh Nak Nila masih kaget."
Aku membisu. Kulihat ratusan jarum mulai terarah pada kepalaku. Membuatku kelonjotan, membuat Bu Surti ketakutan.
"Astaghfirullah, nyebut Nak. Nyebut. Kamu kemasukan." Kudengar suara Bu Surti yang panik, tapi tak bisa kujawab. Seorang sipir melongok dari balik terali lalu membuka pintu sel. Ia mengunci badanku sembari tangannya berusaha meremas dadaku. Kurang ajar!
Aku mencoba meloloskan diri dari cengkeramannya, dan berlari ke sudut dinding, menjadikan kepalaku sebagai pendulum. Kalau sudah begini, tidak lama lagi aku akan melihat seorang gadis cantik atau perjaka tampan. Persis seperti diriku, hanya lebih cantik atau lebih tampan. Aku tak tahu. Kulitnya putih bercahaya, giginya sebersih mutiara, dan kata-katanya sesegar embun pertama. "Lepaskan kesedihanmu. Kau manusia biasa, Nila, di mana tangis sama terhormatnya dengan tawa. Di mana cemas sama berharganya dengan bahagia. Hanya jiwa-jiwa rapuh yang membiarkan tangis dan cemas tersembunyi di balik wajah bahagia. Lepaskan semua bebanmu."
Lalu tangannya yang lampai menjulur ke arahku. Tangan itu kusambut sepenuh rindu, kuciumi. Setengah jam kemudian aku dapati diriku terkulai di atas kasur. Lelah, terkuras. Dan sisa pening yang tersangkut seperti bonggol pohon di bendungan air.
"Tidur saja Nak Nila. Tadi kamu menjedotkan kepala berkali-kali."
Suara Ibu Surti lagi! Mengapa aku harus berbagi sel dengan makhluk tambun yang cerewet ini? Bedebah!
***
KINI gadis cantik atau lelaki tampan, dengan kulit seputih cahaya itu datang lagi menjulurkan tangannya kepadaku. "Apa kabarmu hari ini, Nila?"
"Buruk, aku merasa sedih dan bodoh."
"Mengapa? Dulu kau mahasiswi terpintar di kampus, bukan?"
"Ya."
"Lalu?"
"Lalu aku terpikat omongan lelaki."
"Bukankah wanita selalu terpikat bual lelaki, Nila?"
"Omongan lelaki ini lebih membuai dari semua lelaki yang kukenal. Aku sama sekali tak berkutik bila harus bertukar jawab dengannya."
"Berdiskusi maksudmu?"
"Kami tak pernah diskusi. Dia yang membuat keputusan, aku yang menjalani. Selalu begitu."
"Bukankah dari kecil nilai-nilai seperti itu yang kau pelajari?"
"Ya, tapi aku tak menyangka bahwa dia berubah menjadi kemutlakan itu sendiri. Dia menjadikanku seonggok daging tak bernyawa."
"Mengapa kau berpikir seperti itu, Nila?"
"Aku selesaikan kuliah dalam 7 semester, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tapi tak pernah berangkat karena telanjur dijadikan sapi perah di rumah. Aku seharusnya bahagia, dengan suami dan anak yang lucu. Tapi ternyata tidak."
"Kamu sih masih percaya bahwa tugas perempuan cuma di rumah?"
"Aku tidak keberatan. Ibuku dulu juga di rumah, tapi beliau punya kehidupan meski pendidikannya tidak setinggiku."
"Apa maksudmu?"
"Aku hidup tapi tidak punya kehidupan. Hidup macam apa ketika orang yang menjalaninya tak bisa memilih corak yang diinginkan?"
"Kalau begitu kamu tunjukkan bahwa kamu bukan perempuan lemah."
"Alasanku selalu bisa dilumpuhkannya."
"Aku tak bilang harus kau lakukan dengan kata-kata."
"Maksudmu?"
"Kata-kata hanya bagi orang yang mengerti, Nila."
"Aku tidak mengerti."
"Kamu mengerti, Nila. Kamu biarkan belenggu penindasan menggari pikiranmu, semangatmu. Kamu sendiri yang memilih untuk bekerja sama dengan kelicikan suamimu, menjadikan dirimu sebagai hamba, sementara dia paduka raja."
"Kakiku terhambat."
"Begitu juga kaki anakmu kelak."
"Aku ingin kehidupan anakku jauh lebih baik dariku."
"Jangan bermimpi, Nila! Lihat apa yang diberikan suamimu sekarang. Ia hanya menafkahimu dengan kata-kata. Masa depanmu suram. Masa depan anakmu? Nol besar!"
"Jangan membuatku tambah sedih."
"Aku hanya ingin kamu melihat kenyataan."
"Kenyataan ini terlalu pahit."
"Akan begini terus jika kamu tidak mengubahnya. Anggaplah kamu kuat mengalami semua derita hidup. Tapi anakmu? Dia tak pantas menderita karena kesombongan ayahnya dan kepasrahan tolol ibunya."
"Aku tidak tolol!"
"Karena itu anakmu harus dibebaskan dari penderitaan."
"Caranya?"
"Kamu bukan orang bodoh, Nila. Kamu tahu bagaimana caranya membuat anakmu mengecap kebahagiaan sejati selamanya."
"Tidak mungkin. Aku tak bisa berpisah dari anakku."
"Dungu! Kau rela membiarkan anakmu terus menderita dengan cara hidup ayahnya yang selalu mengekang di semua hal?"
"Bagaimana aku bisa menghadapi suamiku nanti?"
"Bebaskan juga suamimu dari belenggu kesombongannya."
"Cintaku melebihi segala kesombongannya."
"Bodoh kau!"
"Aku tahu, kadang-kadang kelakuannya sudah tak bisa ditoleransi."
"Bodoh kau!"
"Aku mengerti. Sekarang saatnya bersikap lebih tegas."
"Bodoh kau!"
"Akan kulawan kata-katanya."
"Bodoh kau!"
"Aku tidak akan taat lagi pada kata-katanya."
"Bodoh kau!"
"Keparat! Mengapa kau terus-menerus membodoh-bodohiku. Aku tidak bodoh, aku tidak takut. Aku akan melenyapkannya dan menentukan jalan hidupku sendiri selamanya."
"Pintar kau!"
DUA orang penjaga kembali masuk sel. Mereka mendorong tubuhku ke dinding. Aku lihat Bu Surti terengah-engah. Ia mengelus lehernya yang mulai dihiasi titik-titik darah. Ujung kuku tanganku ngilu. Seorang penjaga bertubuh tonjang dengan cepat menelikung tanganku dan memborgolnya.
Mereka memutar tubuhku, dan mendorongku berjalan keluar sel. Penjaga dengan tubuh tinggi besar itu menjambak rambutku sehingga kepalaku terdongak. Aku melewati sel-sel lain yang riuh. Ada yang melemparkan sisa permen karet, ada yang meludahiku. Seorang perempuan gendut lainnya yang kutahu salah seorang sahabat Bu Surti memakiku dengan suara paraunya yang lebih buruk dari piring kaleng.
"Dasar sundel! Kalau mau bunuh suami, bunuh aja suami lu. Jangan anak lu ikut-ikutan dijagal! Ibu model apa lu! Katanya dulu mahasiswi teladan. Makan tuh sekolahan. Gembel aja nggak ada yang tega kayak lu!"
Suaranya disambut celetukan penghuni sel lain, bertalu-talu.
"Mati! Mati! Mati! Hukum mati aje Pak Sipir! Biar nyaho’!"
"Ibu terkutuk!"
"Dedemit dia kali, bukan orang!"
Tiba-tiba ratusan jarum yang biasa menghujani kepalaku datang lagi. Kali ini bersama gadis cantik dengan kulit seputih cahaya yang tersenyum di ujung lorong, melambai-lambaikan tangannya. "Anakmu sudah terbebas dari penderitaan dunia. Suamimu sudah menemui hukuman yang pantas atas kesombongannya. Kamu perempuan hebat, Nila. Kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri."
Badanku kembali gemetar, berayun entah ke mana. Aku tak bisa menghentikannya. Kepalaku kembali menjadi pendulum. Sipir itu menjerit. Seseorang sudah jelas berkuasa atas kepalaku sejak lama. Hanya aku tak tahu siapa. ***
Jakarta, 21 Juni 2006
Catatan: Nyaho’ = kapok, jera.
Ibu Surti memeluk tubuhku dengan cemas. Tubuhnya terlalu besar untuk sel sempit ini. Keringatnya sangit seperti berkilo-kilo ikan busuk teronggok di los pasar. Aku pusing menghirup bau ini. Tapi aku lebih tak mampu lagi menahan sakit di kepala seperti dirajam puluhan jarum. Selama 15-20 menit yang menggila aku bertarung untuk tidak menyerah. Badanku bergetar hebat seperti tebing siap longsor.
"Nak Nila, ibu panggilkan penjaga ya? Kamu membuat ibu ngeri."Aku menggelengkan kepala dan bangkit dari kasur. Aku remas kepala semakin kuat. Deraan ini tidak akan lama, meski setelah semuanya berakhir kedua tanganku pasti dipenuhi gumpalan rambut rontok. Aku benturkan kepala ke tembok untuk meredakan rasa sakit. Mula-mula hanya ayunan lembut. Buk! Lalu seperti pendulum yang mendapat gaya lenting semakin besar, ayunan kepalaku juga semakin bertenaga. Betapa nikmat.
Ibu Surti mencoba menghalangi dengan tangan gempalnya seperti lemur sapi tergantung di rumah jagal. Aku ingin menyuruhnya menjauh, namun sulit sekali membuka mulut. Aku hantamkan kepalaku ke tubuhnya. Ia melolong kesakitan, dan spontan menarik tubuhnya menjauhiku. Ini kali ketiga Ibu Surti menyaksikanku menduelkan kepala dengan dingin tembok semudah perempuan lain merebahkan kepala mereka di dada kekasih.
Tetapi perempuan gemuk di depanku ini bukan orang yang cepat belajar. Ia abai melihat pola yang terjadi berulang kali di depan mata. Tak heran jika ia dilancungi suami dan adik perempuannya sendiri yang bertukar nafsu sepanas magma Merapi. Baru pada perselingkuhan mereka yang kedelapan Bu Surti menyaksikan keduanya bergelut di ranjang, di kamarnya sendiri. Mereka tersenyum ke arahnya begitu mengetahui Bu Surti memergoki laku cabul itu. Tapi ia tak menghardik, apalagi menangis. Ia hanya keluar kamar.
Beberapa menit kemudian tetangga mendengar lengking kematian. Mereka menghambur ke rumah Bu Surti, dan ternganga melihat di dada suaminya tertancap sebuah obeng. Lelaki itu mati dengan mata melotot. Di sampingnya terbujur mayat perempuan muda yang dikenali sebagai Mayang, adik bungsu Bu Surti. Lambungnya robek. Kemaluannya sobek, tertikam ulekan gado-gado yang dibiarkan tergolek. Kini giliran tetangga yang paling berani pun menjerit panjang.
Mereka sudah lama tahu laku jalang yang dilakoni suami Bu Surti dan Mayang. Tapi tak seorang pun memberi tahu. Bukan karena mereka tak menyayangi Bu Surti, melainkan karena ingin menyaksikan sebuah drama, sebuah tontonan yang lebih nyata dibandingkan sinetron televisi. Mereka bayangkan akan pecah perang mulut antara Bu Surti dan suaminya yang jauh lebih dahsyat dibandingkan bentrok dua kelompok preman kampung. Mereka nantikan saat-saat pengusiran yang bakal dialami Mayang setelah Bu Surti merajamnya dengan berton-ton kata.
Pendeknya, mereka ingin menyaksikan sedikit "hiburan" sebelum benar-benar membantu Bu Surti nanti. Ya, nanti. Mereka butuh sebuah tontonan gratis yang bisa dilakukan tanpa perlu keluar rumah. Cukup dengan menempelkan kuping ke bilik bambu, atau pura-pura sibuk di depan pintu.
Mereka hanya tak mengira semuanya berakhir begitu cepat. Tak ada perang mulut, atau pengusiran yang menggelegar. Di mata mereka kini hanya terlihat sebuah obeng, sebilah pisau, dan ulekan gado-gado. Ketiganya mengantarkan Ibu Surti menjadi penghuni seumur hidup penjara wanita. Ia lolos dari hukuman mati karena media massa bertubi-tubi mewartakan kisah sedihnya yang membuat pembaca bersimpati. Mungkin juga bagi jaksa dan majelis hakim.
ITU kisah yang kudengar dari mulut Bu Surti ketika aku baru masuk sel busuk ini dua pekan lalu. Saat itu aku heran bagaimana mungkin perempuan dengan wajah sepasrah Bu Surti bisa menghilangkan dua nyawa sekaligus. Maka dari mulutku meluncur sederet tanya yang tak dapat kucegah.
"Pisau dan obeng itu…?" Suaraku tersangkut di tenggorokan.
"Pisau, obeng, dan ulekan itu," Bu Surti meralat ucapanku, "tiba-tiba saja muncul di kepala seperti ada yang membisiki."
"Membisiki. Siapa yang membisiki?"
"Ndak tahu. Suara itu bilang mereka harus mati."
"Jadi karena itu ibu mempersiapkan peralatan?"
"Saya ndak mempersiapkan apa-apa. Suara itu yang menggerakkan tangan saya mengambil pisau dan lain-lain."
"Apa katanya?"
"Surti, kau mesti jaga harga dirimu sebagai perempuan."
"Ibu yakin mendengar suara itu?"
"Begitulah yang saya dengar." Wajahnya mengeras. "Saya ndak salah. Gusti Allah mengerti yang saya lakukan."
"Ya Bu," aku tak tahu harus berkata apa lagi. "Hanya Gusti Allah yang bisa mengerti apa yang ibu dan saya lakukan."
"Memangnya apa yang Nak Nila lakukan?"
"Panjang ceritanya, Bu."
"Kasihan sekali kamu semuda ini sudah hidup di penjara. Wajahmu cantik, badanmu bagus. Pasti banyak lelaki yang ingin jadi suamimu."
Aku seperti mendapatkan ibu baru, sehingga aku merebahkan diri di badannya yang sangat lebar. Pada saat yang sama aku baru sadari bau tubuhnya yang bacin. Rasa mual langsung menggelegak. Aku muntah di hari pertamaku di sel. Bu Surti kembali mengelus rambutku dengan ramah. "Memang begitu kalau pertama kali di penjara. Tubuh Nak Nila masih kaget."
Aku membisu. Kulihat ratusan jarum mulai terarah pada kepalaku. Membuatku kelonjotan, membuat Bu Surti ketakutan.
"Astaghfirullah, nyebut Nak. Nyebut. Kamu kemasukan." Kudengar suara Bu Surti yang panik, tapi tak bisa kujawab. Seorang sipir melongok dari balik terali lalu membuka pintu sel. Ia mengunci badanku sembari tangannya berusaha meremas dadaku. Kurang ajar!
Aku mencoba meloloskan diri dari cengkeramannya, dan berlari ke sudut dinding, menjadikan kepalaku sebagai pendulum. Kalau sudah begini, tidak lama lagi aku akan melihat seorang gadis cantik atau perjaka tampan. Persis seperti diriku, hanya lebih cantik atau lebih tampan. Aku tak tahu. Kulitnya putih bercahaya, giginya sebersih mutiara, dan kata-katanya sesegar embun pertama. "Lepaskan kesedihanmu. Kau manusia biasa, Nila, di mana tangis sama terhormatnya dengan tawa. Di mana cemas sama berharganya dengan bahagia. Hanya jiwa-jiwa rapuh yang membiarkan tangis dan cemas tersembunyi di balik wajah bahagia. Lepaskan semua bebanmu."
Lalu tangannya yang lampai menjulur ke arahku. Tangan itu kusambut sepenuh rindu, kuciumi. Setengah jam kemudian aku dapati diriku terkulai di atas kasur. Lelah, terkuras. Dan sisa pening yang tersangkut seperti bonggol pohon di bendungan air.
"Tidur saja Nak Nila. Tadi kamu menjedotkan kepala berkali-kali."
Suara Ibu Surti lagi! Mengapa aku harus berbagi sel dengan makhluk tambun yang cerewet ini? Bedebah!
***
KINI gadis cantik atau lelaki tampan, dengan kulit seputih cahaya itu datang lagi menjulurkan tangannya kepadaku. "Apa kabarmu hari ini, Nila?"
"Buruk, aku merasa sedih dan bodoh."
"Mengapa? Dulu kau mahasiswi terpintar di kampus, bukan?"
"Ya."
"Lalu?"
"Lalu aku terpikat omongan lelaki."
"Bukankah wanita selalu terpikat bual lelaki, Nila?"
"Omongan lelaki ini lebih membuai dari semua lelaki yang kukenal. Aku sama sekali tak berkutik bila harus bertukar jawab dengannya."
"Berdiskusi maksudmu?"
"Kami tak pernah diskusi. Dia yang membuat keputusan, aku yang menjalani. Selalu begitu."
"Bukankah dari kecil nilai-nilai seperti itu yang kau pelajari?"
"Ya, tapi aku tak menyangka bahwa dia berubah menjadi kemutlakan itu sendiri. Dia menjadikanku seonggok daging tak bernyawa."
"Mengapa kau berpikir seperti itu, Nila?"
"Aku selesaikan kuliah dalam 7 semester, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tapi tak pernah berangkat karena telanjur dijadikan sapi perah di rumah. Aku seharusnya bahagia, dengan suami dan anak yang lucu. Tapi ternyata tidak."
"Kamu sih masih percaya bahwa tugas perempuan cuma di rumah?"
"Aku tidak keberatan. Ibuku dulu juga di rumah, tapi beliau punya kehidupan meski pendidikannya tidak setinggiku."
"Apa maksudmu?"
"Aku hidup tapi tidak punya kehidupan. Hidup macam apa ketika orang yang menjalaninya tak bisa memilih corak yang diinginkan?"
"Kalau begitu kamu tunjukkan bahwa kamu bukan perempuan lemah."
"Alasanku selalu bisa dilumpuhkannya."
"Aku tak bilang harus kau lakukan dengan kata-kata."
"Maksudmu?"
"Kata-kata hanya bagi orang yang mengerti, Nila."
"Aku tidak mengerti."
"Kamu mengerti, Nila. Kamu biarkan belenggu penindasan menggari pikiranmu, semangatmu. Kamu sendiri yang memilih untuk bekerja sama dengan kelicikan suamimu, menjadikan dirimu sebagai hamba, sementara dia paduka raja."
"Kakiku terhambat."
"Begitu juga kaki anakmu kelak."
"Aku ingin kehidupan anakku jauh lebih baik dariku."
"Jangan bermimpi, Nila! Lihat apa yang diberikan suamimu sekarang. Ia hanya menafkahimu dengan kata-kata. Masa depanmu suram. Masa depan anakmu? Nol besar!"
"Jangan membuatku tambah sedih."
"Aku hanya ingin kamu melihat kenyataan."
"Kenyataan ini terlalu pahit."
"Akan begini terus jika kamu tidak mengubahnya. Anggaplah kamu kuat mengalami semua derita hidup. Tapi anakmu? Dia tak pantas menderita karena kesombongan ayahnya dan kepasrahan tolol ibunya."
"Aku tidak tolol!"
"Karena itu anakmu harus dibebaskan dari penderitaan."
"Caranya?"
"Kamu bukan orang bodoh, Nila. Kamu tahu bagaimana caranya membuat anakmu mengecap kebahagiaan sejati selamanya."
"Tidak mungkin. Aku tak bisa berpisah dari anakku."
"Dungu! Kau rela membiarkan anakmu terus menderita dengan cara hidup ayahnya yang selalu mengekang di semua hal?"
"Bagaimana aku bisa menghadapi suamiku nanti?"
"Bebaskan juga suamimu dari belenggu kesombongannya."
"Cintaku melebihi segala kesombongannya."
"Bodoh kau!"
"Aku tahu, kadang-kadang kelakuannya sudah tak bisa ditoleransi."
"Bodoh kau!"
"Aku mengerti. Sekarang saatnya bersikap lebih tegas."
"Bodoh kau!"
"Akan kulawan kata-katanya."
"Bodoh kau!"
"Aku tidak akan taat lagi pada kata-katanya."
"Bodoh kau!"
"Keparat! Mengapa kau terus-menerus membodoh-bodohiku. Aku tidak bodoh, aku tidak takut. Aku akan melenyapkannya dan menentukan jalan hidupku sendiri selamanya."
"Pintar kau!"
DUA orang penjaga kembali masuk sel. Mereka mendorong tubuhku ke dinding. Aku lihat Bu Surti terengah-engah. Ia mengelus lehernya yang mulai dihiasi titik-titik darah. Ujung kuku tanganku ngilu. Seorang penjaga bertubuh tonjang dengan cepat menelikung tanganku dan memborgolnya.
Mereka memutar tubuhku, dan mendorongku berjalan keluar sel. Penjaga dengan tubuh tinggi besar itu menjambak rambutku sehingga kepalaku terdongak. Aku melewati sel-sel lain yang riuh. Ada yang melemparkan sisa permen karet, ada yang meludahiku. Seorang perempuan gendut lainnya yang kutahu salah seorang sahabat Bu Surti memakiku dengan suara paraunya yang lebih buruk dari piring kaleng.
"Dasar sundel! Kalau mau bunuh suami, bunuh aja suami lu. Jangan anak lu ikut-ikutan dijagal! Ibu model apa lu! Katanya dulu mahasiswi teladan. Makan tuh sekolahan. Gembel aja nggak ada yang tega kayak lu!"
Suaranya disambut celetukan penghuni sel lain, bertalu-talu.
"Mati! Mati! Mati! Hukum mati aje Pak Sipir! Biar nyaho’!"
"Ibu terkutuk!"
"Dedemit dia kali, bukan orang!"
Tiba-tiba ratusan jarum yang biasa menghujani kepalaku datang lagi. Kali ini bersama gadis cantik dengan kulit seputih cahaya yang tersenyum di ujung lorong, melambai-lambaikan tangannya. "Anakmu sudah terbebas dari penderitaan dunia. Suamimu sudah menemui hukuman yang pantas atas kesombongannya. Kamu perempuan hebat, Nila. Kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri."
Badanku kembali gemetar, berayun entah ke mana. Aku tak bisa menghentikannya. Kepalaku kembali menjadi pendulum. Sipir itu menjerit. Seseorang sudah jelas berkuasa atas kepalaku sejak lama. Hanya aku tak tahu siapa. ***
Jakarta, 21 Juni 2006
Catatan: Nyaho’ = kapok, jera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar