Kamis, 28 April 2016

Air Keramat



Cerpen Zaenal Radar T
 Dimuat di Republika 01/02/2011 

Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan.
"Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"
"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"
"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"
Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.
Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.
Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.
"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.
"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"
"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"
"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"
"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"
"Allahu Akbar ...!!!"
Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.
"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.
"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.
"Bu, air ini buat apa?"
"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."
"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"
"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.
Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.
"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"
"Buat minum."
"Buat minum? Supaya apa Pak?"
Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.
"Supaya enggak haus!"
Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.
Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".
Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.
Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.
Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"
"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"
"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"
"Ini mukjizat, Pak!!"
"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"
"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"
Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.
"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"
"Pak Lurah payah!"
"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.
"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"
"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"
Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.
Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.
Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"
"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"
"Allahu Akbar...!!!"
"Allahu Akbar...!!"
Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.
Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.
"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"
Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"
Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,
"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"
Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,
"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"
Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.
Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan.  Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***

Agonia Senja


Cerpen Vovieta Tourrisia
Dimuat di Suara Merdeka 03/16/2008
  


KAMI melanggar peraturan. Seharusnya batas waktu penggunaan kolam renang apartemen adalah pukul delapan, namun lewat dari dua jam yang ditentukan kami justru baru menceburkan diri ke dalam kolam. Saya katakan padanya bahwa saya tidak bisa berenang, saya takut air dan takut tenggelam. Karena itu ia menuntun saya dari sisi depan. Gerakannya sangat tenang, terlihat jelas ia sedang berusaha menciptakan keberanian pada diri saya untuk melenyapkan segala macam ketakutan yang ada.
Namun di pertengahan kolam, saya menghilang. Menyelam dengan bebas pada kedalaman dua koma lima meter hingga membuatnya kesal bukan kepalang. Sudah capek-capek menuntun sampai tiga puluh meter jauhnya, ternyata yang dituntun mahir berenang, bahkan menyelam hingga nyaris menyentuh dasar kolam. Maka ia menantang saya menyelam dalam kolam renang berukuran olimpiade ini bolak-balik tanpa jeda, dan menerima tantangannya tanpa berpikir dua kali.
***
IA tidak menyadari, saya tak sedikit pun berusaha memenangkan perlombaan ini. Saya terlalu menikmati air kolam yang hangat beradu dengan dingin menusuknya sang bayu. Saya mengayun kedua tangan dan kaki seirama dengan roda waktu, seolah saya diciptakan sebagai makhluk air bernama penyu bermata sayu.
Ketika ia telah jauh mendahului saya, tiba-tiba saya berhenti. Sesuatu yang hilang seperti menyeret saya ke belakang serupa jalinan memento, membuat penasaran akan rasanya kematian. Semakin penasaran karena degup jantung tak juga menemukan titik pemberhentian. Saya tak berkedip hingga tiga puluh detik pertama, menanti. Setelahnya menutup masing-masing kelopak mata perlahan, masih menanti. Saya segera mengerti bagaimana rasanya berada di tengah palung menuju alam bawah sadar. Saya dapat mencium aroma kematian: serupa wangi sedap malam yang membusuk, sebagai pengiring dayang-dayang langit berlentera kelam. Saya kesurupan, dirasuki setan malam nan pendiam.
Seperti tersadar akan pemberhentian yang tidak wajar, ia menyelam ke arah saya lantas menarik lekas-lekas tubuh yang nyaris tak menyisakan kehidupan ini. Ia mengangkat lalu merebahkan saya di atas gazebo pinggir kolam berkelambu sutra abu-abu. Bertanya: apa, kenapa, bagaimana, atas nama apa. Apa dan apa dan apa dan hanya ada apa. Tidak apa-apa, jawab saya. Ia diam tetapi saya tahu ia bicara, tidak melalui kata-kata yang lahir dari suara.
Semilir angin semakin merengkuh saya jauh dari realita menuju kedamaian imitasi. Pelukan tak lagi terasa hangat, malah kelewat panas seperti hendak melebur saya untuk dijadikan santapan tengah malam. Akan tetapi dan terus-terusan hanya ada tetapi, saya ingin, ingin, dan semakin ingin dipeluk oleh ia tanpa harus dilepaskan, tanpa harus lagi-lagi kedinginan. Demi Tuhan. Keinginan saya untuk dipeluk semakin menjadi-jadi, semakin tak tertahankan, semakin sulit dilawan. Dan demi setan saya malah hanya bisa diam, bungkam, bahkan tak mampu berdeham.
Mungkin dingin bisa saja membuat saya ngilu, tapi tak seharusnya menjadikan saya bisu. Sekarang saya benar-benar sekarat. Rasanya mau mampus saja buru-buru, tanpa harus dihibahkan kelu seperti itu. Kenapa, kenapa, kenapa, saya bertanya. Tidak akan terjadi apa-apa, semoga saja, saya meyakinkan diri, dan mencari doa.
Doa. Datanglah melalui tarian angin mahagemulai. Bisikkan mantra penyuci jiwa lewat telinga dan biarkan ia meranggas di jantung nan rapuh ini tanpa perlu dilukai. Kan kunikmati sayat demi sayat pada permukaannya hingga ruh dan raga sama-sama terkulai. Datang, datanglah, walau tengah malam ini saja. Beri kesempatan agar hati ini mendorong mulut untuk melayangkan suara kepadanya atas nama rasa. Izinkan diri menyampaikan keinginan untuk dipeluk oleh ia, sang pelindung nan setia melagukan kasih penidur, sebagai penawar rasa sakit akan ketidakabadian. Ajarkan jiwa ini menerima segala yang sepatutnya diterima, meski lewat sebait doa.
***
SAYA yakin Dia di Atas sana mendengar dan mewujudkan permohonan saya akan kiriman surga bernama doa. Sebab kengiluan tak lagi ada, digantikan bara hangat yang berembus lewat napasnya pada mulut saya. Ia melukis lengkung lidah mesra di dalamnya, sembari dihantui kepanikan akan degup jantung saya yang meski tak lagi ngilu namun semakin melemah dan memberi getaran kecil seolah memohon ampun untuk segera diakhiri. Jantung saya berbicara, mewakili pita suara yang sungguh tak sanggup melahirkan kata. Detik itu pula saya percaya, segalanya akan mati sia-sia sekali pun cinta sebagai peran utama. Saya tahu, keabadian selalu tamat secara berkala dan sudah semestinya saya siap digantung koma.
Sepertinya saya memang sengaja disiksa; tak diizinkan hidup secara utuh, mati pun perlu sertifikasi. Terlebih karena seumur hidup dapat dihitung dengan jari seberapa sering saya berdoa demi kebaikan. Ingatan hilang dihantam sunyi. Nyeri membebat kepala hingga meruntuhkan kapabilitas memori. Nyeri itu turut mengendap di setiap persendian, membuat saya terbujur kaku. Saya mati rasa, namun berada di ambang ketidaksadaran justru menguatkan saya untuk tetap bertahan, meski kekuatan itu terletak pada titik tengah kelemahan. Mungkin ini yang dinamakan fase kematian. Sakit yang menegarkan, perih yang membebaskan. Seperti dibuai akan panorama duniawi ketika naik gondola raksasa yang putarannya senantiasa mendebarkan.
Ia yang saya cintai masih terus berusaha menciptakan keajaiban, menjemput kehidupan agar kembali menyulut ruh saya yang perlahan memadam. Saya merasa kalut, sebab ruh saya tak mau hidup kembali untuk mencicipi manis cinta yang justru perih di dada karena ketulusannya tak akan mampu terbayarkan oleh saya, manusia pesakitan dengan berjuta obsesi akan kematian. Saya yakin ia akan bahagia justru tanpa saya, tanpa halusinasi saya yang berlebihan, dan tanpa harus dibuat tersiksa karenanya.
Tersirat dalam benak yang mulai redup ini untuk menghisap cintanya terlebih dulu sampai habis, sampai ia tak sudi lagi memberi satu keping di antaranya, sampai ia muak dengan perasaannya sendiri, sampai akhirnya tidak memedulikan saya bersama jasad kaku ini di sini. Namun rasanya percuma. Sebab hingga detik ini ia tak putus-putus mentransfer doa dalam lirih bisikan melalui telinga saya sembari mengatakan agar tetap bertahan menguatkan diri dan senantiasa menyadari bahwa ia selalu berada di sisi saya.
***
SAYA memang digantung koma, namun bukan berarti tak lagi tersisa air mata. Tetesan itu menyeruak keluar dari lingkar mata serupa guratan pada cabang pepohonan. Saya menangis bukan untuknya, melainkan diri sendiri. Jika harus saya hitung satu demi satu pengkhianatan yang telah saya lakukan di belakangnya tanpa pernah sekali pun ia ketahui hingga hari ini, akan ada lebih dari sepuluh nama yang tertera di dalamnya, lebih dari sepuluh cerita yang nantinya terbaca, dan lebih dari sepuluh hati yang tercabik dan meluka, bagian yang tersulit untuk diobati dengan penawar apa pun kecuali hati itu sendiri.
Saya pengkhianat, tapi saya mencintainya. Mencintainya tanpa mengharap balasan namun pada kenyataannya cinta saya kepadanya kalah telak oleh cinta yang ia berikan kepada saya. Tak akan pernah mampu saya mengimbangi perasaannya yang sudah berada di puncak dari segala tingkat. Saya pengkhianat, tapi saya tak pernah meninggalkannya. Ada magnet yang menarik saya dan kutub-kutubnya memompa lembut jantung hati ini untuk terus berdegup setiap kali saya bersamanya. Saya pengkhianat, tapi saya takut dikhianati. Mungkin karena itu tak henti-hentinya saya menyiksa diri dengan berkhianat ke sana kemari, menikmati perih luka pada jiwa-jiwa yang dikhianati, mengais habis kebahagiaan mereka. Saya pengkhianat, tapi pada akhirnya saya tak mendapatkan apa-apa. Saya kehilangan hampir segalanya, dan bukan tak mungkin segera kehilangan ia juga.
Seharusnya saya lekas mengakhiri hidup ketika masih menyelam tadi dan menjauh dari jangkauannya agar ia tak bisa menarik saya ke daratan yang alih-alih malah membuat saya tersiksa seperti ini. Atau seharusnya saya tak pernah berkhianat kepada siapa pun, sehingga tak perlu ada balasan semacam ini. Atau seharusnya ia tak mencintai saya lebih dari cinta yang saya berikan, sebab kini jurang perbedaan kadarnya terlihat kian membesar. Selalu ada ''seharusnya''. Seharusnya selalu ada.
Saya sempat mengira astana dasamuka mengirimkan musikalisasi dari gending lembah ngarai sebagai lagu pengiring kematian saya, namun suara samar-samar itu terdengar semakin jelas dan bukan gending lembah ngarai yang mendamaikan, melainkan sirine ambulans putih dengan lampu merah nyalang di atasnya. Ruh saya marah. Ia menghujat orang-orang yang berkerumun di sini dan menganggap saya sebagai tontonan cuma-cuma. Ia mengamuk pada dayang-dayang langit berlentera kelam yang tak datang membawanya ke astana dasamuka untuk dibunuh dan dilahirkan kembali. Ia mencabik jantung saya yang degupnya tak juga berhenti sedari tadi.
Saya ingin merengkuhnya ke dalam jasad ini kembali, agar kami menyatu lagi dan kelak membenahi segala sesuatu yang telah kami hancurkan hingga porak poranda. Namun ia tak sudi dan malah berteriak lantang tepat mengena di ulu hati saya. Ia tahu, jika ia kembali bersatu dengan jasad ini, saya hanya akan menyiksanya perlahan-lahan dengan menjadi makhluk Tuhan yang terpuji. Tidak akan ada lagi pengkhianatan dan dusta yang kelak melahirkan dosa. Adapun ia terlahir sebagai pendosa sejati. Dosa adalah sumber kehidupannya. Ia akan mengupayakan segalanya untuk bisa memenangkan peperangan dengan jasad saya yang menginginkan kebaikan dan membutuhkan penyucian diri, karenanya saya pasti akan kalah. Di sinilah kali terakhir saya diberi kesempatan untuk memberdayakan akal pikiran sebagai manusia. Saya diberikan pilihan: berperang dengan ruh sendiri selama jasad ini menopangnya kembali demi pembersihan jiwa, atau mengizinkan ruh itu mendapatkan kehendaknya untuk terlepas dari jasad saya selamanya.
Akhirnya pilihan saya jatuh pada pilihan kedua. Sebab walau bagaimana pun, saya pasti kalah dan ia selalu menang. Jika saya terus-terusan berperang dengannya tanpa ada titik temu di bibir pintu, saya yakin, ketika suatu saat nanti kesalahan kami terulang kembali, jasad ini telah membusuk bahkan sebelum saya menyadarinya. Saya tak ingin itu terjadi. Saya juga sadar, ruh ini telah berusaha membebaskan diri dari saya sekian lama, namun saya tak pernah peduli, sebab saya mencintai lelaki itu, dan untuk mencintai seorang manusia dengan ruh dan jasad yang saling melengkapi, saya harus tetap hidup dan tidak boleh mati.
Saya terharu bahwa pada detik-detik menjelang babak akhir kehidupan ini, masih ada hati yang mencintai saya, yang tidak semata-mata menginginkan saya, meski ia tak berhasil menolong saya. Air mata tak lagi berupa cairan, ia telah menyatu dengan angin, sehingga kekasih saya tak tahu betapa pedih yang saya rasakan saat harus meninggalkannya, sebelum saya sempat mengatakan maaf dan mengecup kelopak bibirnya untuk terakhir kalinya.
***
SAYA pasrah. Ruh saya menari-nari gemulai, menyeringai lebar dengan lidah api yang terjulur dari mulutnya. Ia akan dilahirkan kembali nun jauh di sana, di astana dasamuka. Sementara jasad yang selama ini menjadi topangannya, tempat saya merelakan tubuh ini berkhianat ke sana kemari pada tubuh-tubuh yang juga pengkhianat oleh sebab hasrat ruh yang melewati batas, harus rela juga ketika pada akhirnya hanya akan berakhir di kotak kayu pengap dan panjangnya pas-pasan yang dinamakan peti mati.***
Catatan:
agonia: rasa sakit yang amat sangat
Jumat, 01 Februari 2008

Agoni Pengantin



Cerpen Diana Oktaviani
Dimuat di Jawa Pos 07/24/2005  



Baiklah. Aku akan menikahimu. Meski alasan yang kita dapatkan hanya makin membikin engkau dan aku ragu.

Dalam ruang berbentuk lingkaran, orang-orang segera mengambil bagiannya dalam pesta. Menyantap semua yang selayaknya dihidangkan dalam perayaan. Di tengah-tengah mereka, pengantin perempuan memucat. Ia memandang pengantin lelaki dan berkata pada dirinya sendiri: inilah yang kauinginkan. Pengantin lelaki berdiri tegak tanpa kehilangan sedikit pun garis puas di wajahnya. Perempuan itu merasakan mual yang berlebihan meski tahu dirinya mandul.

Inilah yang kauinginkan. Mengapa rasa takut itu jadi milikmu sekarang? Berhari-hari sebelum hari kemarin engkau masih bisa berkata tidak pada siapa pun. Engkau menulis apa pun yang kauinginkan. Semua yang kauanggap benar adalah sungguh benar. Orang-orang memanjakanmu dengan larangannya dan engkau menghindar. Engkau bantah semua perkataan yang tak baik bagi kegelisahanmu. Engkau pun sendiri.

Tinggal di sebuah kamar di sebuah rumah di sebuah kota. Engkau memasak makanan yang baru bagimu. Makan siang mengganti sarapan yang selalu tertunda. Mendengar lagu-lagu dari penyanyi lama yang baru kausukai. Ada delapan baris rak penuh buku di kamarmu dan engkau mampu menyerap hanya dengan memandang punggung judulnya. Lantas engkau duduk saja di hadapan rak itu, meletakkan cermin ukuran wajah di mukamu. Memandangi bayangan sendiri sambil berulang-ulang menghisap rokok dan menuang air ke cangkir. Memikirkan sumber penghasilan baru. Membuat catatan-catatan berisi hutang-hutang kecil. Bosan, lantas kau mencoba menuliskan sesuatu yang belum pernah kautuliskan sebelumnya.

Waktu adzan kau tak melakukan apa-apa tapi mematung menatap cermin. Kadang kaukencangkan suara tape karena tahu tak ingin sembahyang atau menangis. Jika melintas bayangan penghuni rumah yang lain di jendela kamarmu engkau mengambil sebuah buku besar dan berpura-pura telah membacanya sejak lama.

Kalau datang semangat kau segera mandi sore-sore, menyiapkan isi tas dan pergi mengunjungi tempat-tempat yang kau kenal. Melihat orang-orang berlatih apa saja. Menonton pertunjukan yang gratisan. Duduk-duduk di kafe bersama beberapa kenalan sampai giliran makan. Jika kecewa dengan mereka kau pergi ke tempat yang tak dikunjungi kawan-kawanmu. Toko buku atau swalayan.

Engkau akan pulang larut malam. Melangkah menuju rumah sambil mendengar kasak-kusuk beberapa tetangga yang sedang main kartu di lapangan depan rumah. Kalau pulang lebih awal kau mendengarkan lagu-lagu kesukaanmu lagi sambil terganggu oleh para lelaki di luar yang bercakap soal politik dan kejahatan-kejahatan kecil di kampung. Makan makanan sisa siang atau keluar mencari cemilan.

Memegangi handphone, mengetik beberapa pesan, memilih nama-nama dan nomor-nomor dan lebih sering tak jadi mengirimkannya pada siapa pun. Saat putus asa atas pesan-pesan itu, kau menyimpan nomormu sendiri dengan nama "God" dan mengirimkan pesan-pesan itu ke nomormu sendiri. Sekejap saja pesan-pesan itu tiba di handphone-mu dan kau membukanya dengan dada berdebar: Tuhan mencoba mendekatiku!

Setelah bermain-main dengan pesan-pesan konyol itu engkau pun tertidur dengan sedikit paksaan fisik. Mulai lelap saat subuh datang dan berakibat bangun siang.

Sebulan sekali kau masih selalu bisa merasakan puncak kegelisahan itu. Ketika seseorang menyapamu lewat pesan-pesannya dan mengundangmu datang. Engkau pun menyiapkan kebohongan-kebohongan kecil bagi pemilik rumah untuk mendapat izin keluar tengah malam. Dengan rasa cemas buatan yang menjelma jadi nyata engkau menuju jalan raya dan menyetop taksi.
Membuka pakaian luarmu dan memasukkannya ke dalam tas. Kedinginan. Tiba di sebuah hotel. Bertemu seseorang dari masa depan dan memasuki lift.

Engkau melakukannya. Mengulang-ulang sedikit adegan yang kau ketahui. Hampir setiap pukul dua pagi, usai menusukkan puncak kegelisahanmu ke dalam puncak kegelisahannya, engkau merengek lapar. Lelaki di sampingmu memesan makanan dan menggendongmu di punggungnya menuju meja makan. Kalian makan. Engkau memancingnya bercakap soal politik dan kebudayaan agar lelaki itu tak lupa bahwa engkau tak cuma datang membawa tubuh. Lelaki itu mengagumi kecerdasanmu lalu kelelahan dan tidur. Engkau bersikeras melelapkan diri di ketiaknya.

Begitulah engkau menikmati usia tujuh belasmu. Beberapa hari sebelum hari kemarin. Tetapi mulai hari kemarin engkau mulai terganggu dengan hidupmu sendiri. Engkau melihat anak-anak seusia yang bukan kawanmu menata masa depan yang lebih terang meski tak cemerlang. Engkau merasa mual ketika melewati kampus-kampus mereka. Engkau mengalami migrain melihat festival-festival band. Jantungmu berdegup tidak normal mendengar mereka tertawa di mana saja.

Engkau ingin merasa bahwa engkau memang bukan bagian dari mereka. Engkau ingin meyakinkan bahwa engkau telah jauh lebih lama hidup dan mengalami segala jenis kesepian dan masalah. Engkau ingin orang-orang melihatmu sebagai gadis tua yang angkuh saja. Agar mereka segan dan tak kasihan. Tetapi tidak bisa. Mereka semua tahu kau baru mengakhiri usia tujuh belasmu dan mereka tahu engkau terbuang. Engkau tak bekerja dan tak sekolah. Engkau tak bersuami dan tak bersama keluarga. Maka sebagian dari mereka memandangmu kasihan. Sementara orang-orang yang sadar bahwa engkaulah yang memisahkan diri, mengacuhkanmu.

Mulai hari kemarin engkau tak berharap ke hotel itu lagi.
Pesan-pesanmu tak terbalaskan. Engkau menemukan kelaminmu mulai menebarkan bau busuk. Engkau pun sibuk menambalnya dengan bedak-bedak dan pembalut yang wangi. Lalu engkau mengingat ibu, mamas, mbak yu dan adik-adikmu yang jauh. Lalu engkau teringat bapak yang bertahun kauanggap bejat.

Lalu engkau mencari-cari nomor telepon teman-teman SD. Mendapatkan beberapa dan mengabarkan bahwa dirimu hidup sendirian dengan maksud agar mereka tahu bahwa dirimu sukses tanpa siapa pun. Tetapi engkau teringat ibu, mamas, mbak yu, adik-adik dan bapak yang bejat itu lagi. Tiba-tiba engkau merasa takut kalau-kalau suatu hari mereka menagih masa depan kepadamu. Apa yang dapat kaubawa pulang? Tetapi aku tak mau pulang, katamu.
Tetapi tidak bisa begitu. Engkau pasti pulang. Mereka akan menuntutmu pulang sebelum engkau punya tempat pulang yang lain. Aku akan mengelak. Tapi mereka akan mengejarmu. Ke mana pun. Bagaimana pun.

Maka engkau teringat seorang lelaki yang mengenalmu sejak kecil. Lelaki yang pernah kauanggap sebagai bapak-bapakan. Yang tak pernah menimbulkan nafsu dalam tubuh dan pikiranmu. Yang hanya kepadamu bisa seperti pendeta dan mengasihimu sebagai putra Tuhan. Engkau memintanya menikahimu. Dia tercengang. Dia mengajakmu merundingkan alasan atas pernikahan kalian. Di antara banyak alasan yang mungkin ada, kalian hanya menemukan satu alasan yang membuat engkau dan, terlebih, dirinya ketakutan.

Engkau mengatakan dirimu takut menjadi sia-sia. Takut menjadi bukan siapa-siapa yang tak melakukan apa-apa bagi siapa-siapa. Pernikahanlah yang mampu menyelamatkanku dari situasi ini. Dengan menikah aku memiliki tempat pulang yang baru selain masa lalu.
***
Tapi hari itu pengantin perempuanlah yang memucat. Sementara orang-orang yang tak ada bedanya berkali-kali menyalami dan menyantap makanan, dunia pengantin perempuan dirampas masa lalu dan masa depan.

Setelah hari pesta pernikahan itu. Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki menjadi tempat pulang bagi masing-masing keduanya. Perempuan itu selalu menceritakan kesedihan-kesedihannya di masa lampau dan ketakutan-ketakutannya akan masa depan. Ia tetap tak percaya diri atas hidup yang dilakoninya. Ia makin tak tahu harus berbuat apa. Ia tak perlu melamun lagi. Ia tak punya kegelisahan untuk dituliskan. Ia tak perlu memikirkan hutang-hutang kecil dan masalah keuangan. Segalanya baik-baik saja. Suaminya bukan macam orang baik yang nyaris tanpa dosa dan membosankan. Ia lelaki yang mempunyai pemikiran dan cabang kehidupan yang luas dan mencengangkan.

Ia membiarkan istrinya melakukan apa saja. Ia tak melarangnya bergaul dengan siapa saja. Ia tak berkeberatan atas bau busuk kelamin istrinya. Ia tak mengharamkan apa pun untuk disentuh perempuan itu. Rokok, alkohol atau tempat hiburan. Tetapi ia tetap menjaganya. Menikmati kesedihan-kesedihan dan ketakutan-ketakutannya sambil bersikeras menikmati bau busuk kelaminnya. Ia bukan macam orang baik yang nyaris tanpa dosa. Ia ingin sekali menyetubuhi istrinya. Atau bermain saja dengan perempuan lain di luar.

Tetapi istrinya pun bukan macam perempuan yang patuh dan mengharukan, yang dengan sendu merawat dan membiarkannya bermain apa saja. Perempuan itu tetap hidup dengan pikiran-pikirannya, kecerdasan-kecerdasannya dan keliaran-keliarannya. Hampir selalu bangun siang dan hanya kadang-kadang memasak untuk keluarga. Selalu mengingatkannya untuk tak melakukan keduanya dan makin hari bau busuk itu membuat dirinya tak berselera pada kelamin perempuan atau persetubuhan. Jadi ia nikmati saja kesengsaraan itu bersama anak-anakannya di masa lalu itu.

Pengantin laki-laki itu mulai tahu perkawinannya tanpa nafsu, bahkan mulai beranjak pada tahap tanpa cinta. Perkawinan itu menjadi pertemanan yang dingin dan abadi. Pertemanan, yang tak mungkin dipisahkan karena ungkitan pemuasan atau memudarnya cinta.

Mereka bercakap di tempat tidur setiap malam. Mereka memberi makan anjing-anjing mereka seperti mengurus anak-anak mereka. Anjing-anjing yang saban hari menyalak bernafsu atas amis daging perempuan. Mereka makan bersama dan menghadiri undangan-undangan berdua. Mereka tertawa-tawa bersama setiap menyadari orang-orang di sekitar mereka mulai terganggu bau busuk.
***
Pengantin laki-laki itu berusaha keras melupakan kebiasaannya menghirup bau busuk dari kelamin pengantin perempuan. Tetapi kesedihan-kesedihan dan ketakutan-ketakutan yang selalu diceritakan kepadanya membuatnya cemas bertahun-tahun.

Ia pergi bekerja setiap hari. Makan siang di luar. Kadang-kadang memasak sendiri. Ada puluhan bingkai foto tergantung di kamarnya dan ia mampu mengalami kesedihan hanya dengan meliriknya. Maka ia berbaring saja di tempat tidur pada malam-malam hari. Ia tak lagi harus berjaga dini hari untuk membukakan pintu depan dan menahan diri untuk tidak bertanya "dari mana?" karena alasan privasi. Anjing-anjingnya mati kekurangan bau busuk dan ia tak ingin mengenangnya.

Kalau datang semangat ia mandi sore-sore sepulang kerja. Pergi ke rumah-rumah pelacuran. Ia mendapatkan kelamin perempuan dan persetubuhan. Jika muak dengan mereka ia mengunjungi tempat-tempat yang tak dikunjungi perempuan. Gay party atau bilyard.

Begitulah ia menikmati lajangnya. Bertahun-tahun sebelum hari kemarin. Mulai hari kemarin ia mulai terganggu dengan hidupnya sendiri. Ia melihat kawan-kawannya beristri dan berkeluarga. Ia menjadi berkeringat melewati jalan-jalan utama di hari Minggu. Sakit perut menerima undangan-undangan pesta dan makan malam.

Ia ingin merasa dirinya memang tak diciptakan untuk kehidupan yang biasa. Ia ingin orang-orang melihatnya sebagai pria yang mengagungkan kelajangan agar mereka kagum dan tak kasihan. Tetapi tidak bisa. Semua orang tahu bahwa ia punya seorang istri yang jauh-jauh hari telah meninggalkannya. Maka sebagian dari mereka memandangnya kasihan. Sementara orang-orang yang sadar bahwa ialah yang telah sejak mula mengambil keputusan konyol, mencibirnya.

Mulai hari kemarin ia tak ingin lagi pergi ke rumah-rumah pelacuran itu. Ia menemukan dirinya merindukan bau busuk kelamin istrinya. Ia kehilangan kebiasaan-kebiasaan yang tak mampu didapatkan atau dikembalikannya lagi. Ia turun ke jalan-jalan utama pada Minggu pagi dan bergabung dengan para pejalan kaki. Ia menyadari dirinya telah menjadi bukan siapa-siapa yang tak melakukan apa-apa bagi siapa-siapa, ketika sebuah pesan memaksa masuk: Apa kamu merindukanku? **

Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku

Cerpen Akmal Nasery Basral
Dimuat di Jawa Pos 09/10/2006 


"NAK Nila? Ada apa denganmu, Nak?"
Ibu Surti memeluk tubuhku dengan cemas. Tubuhnya terlalu besar untuk sel sempit ini. Keringatnya sangit seperti berkilo-kilo ikan busuk teronggok di los pasar. Aku pusing menghirup bau ini. Tapi aku lebih tak mampu lagi menahan sakit di kepala seperti dirajam puluhan jarum. Selama 15-20 menit yang menggila aku bertarung untuk tidak menyerah. Badanku bergetar hebat seperti tebing siap longsor.

"Nak Nila, ibu panggilkan penjaga ya? Kamu membuat ibu ngeri."Aku menggelengkan kepala dan bangkit dari kasur. Aku remas kepala semakin kuat. Deraan ini tidak akan lama, meski setelah semuanya berakhir kedua tanganku pasti dipenuhi gumpalan rambut rontok. Aku benturkan kepala ke tembok untuk meredakan rasa sakit. Mula-mula hanya ayunan lembut. Buk! Lalu seperti pendulum yang mendapat gaya lenting semakin besar, ayunan kepalaku juga semakin bertenaga. Betapa nikmat.

Ibu Surti mencoba menghalangi dengan tangan gempalnya seperti lemur sapi tergantung di rumah jagal. Aku ingin menyuruhnya menjauh, namun sulit sekali membuka mulut. Aku hantamkan kepalaku ke tubuhnya. Ia melolong kesakitan, dan spontan menarik tubuhnya menjauhiku. Ini kali ketiga Ibu Surti menyaksikanku menduelkan kepala dengan dingin tembok semudah perempuan lain merebahkan kepala mereka di dada kekasih.

Tetapi perempuan gemuk di depanku ini bukan orang yang cepat belajar. Ia abai melihat pola yang terjadi berulang kali di depan mata. Tak heran jika ia dilancungi suami dan adik perempuannya sendiri yang bertukar nafsu sepanas magma Merapi. Baru pada perselingkuhan mereka yang kedelapan Bu Surti menyaksikan keduanya bergelut di ranjang, di kamarnya sendiri. Mereka tersenyum ke arahnya begitu mengetahui Bu Surti memergoki laku cabul itu. Tapi ia tak menghardik, apalagi menangis. Ia hanya keluar kamar.

Beberapa menit kemudian tetangga mendengar lengking kematian. Mereka menghambur ke rumah Bu Surti, dan ternganga melihat di dada suaminya tertancap sebuah obeng. Lelaki itu mati dengan mata melotot. Di sampingnya terbujur mayat perempuan muda yang dikenali sebagai Mayang, adik bungsu Bu Surti. Lambungnya robek. Kemaluannya sobek, tertikam ulekan gado-gado yang dibiarkan tergolek. Kini giliran tetangga yang paling berani pun menjerit panjang.

Mereka sudah lama tahu laku jalang yang dilakoni suami Bu Surti dan Mayang. Tapi tak seorang pun memberi tahu. Bukan karena mereka tak menyayangi Bu Surti, melainkan karena ingin menyaksikan sebuah drama, sebuah tontonan yang lebih nyata dibandingkan sinetron televisi. Mereka bayangkan akan pecah perang mulut antara Bu Surti dan suaminya yang jauh lebih dahsyat dibandingkan bentrok dua kelompok preman kampung. Mereka nantikan saat-saat pengusiran yang bakal dialami Mayang setelah Bu Surti merajamnya dengan berton-ton kata.

Pendeknya, mereka ingin menyaksikan sedikit "hiburan" sebelum benar-benar membantu Bu Surti nanti. Ya, nanti. Mereka butuh sebuah tontonan gratis yang bisa dilakukan tanpa perlu keluar rumah. Cukup dengan menempelkan kuping ke bilik bambu, atau pura-pura sibuk di depan pintu.

Mereka hanya tak mengira semuanya berakhir begitu cepat. Tak ada perang mulut, atau pengusiran yang menggelegar. Di mata mereka kini hanya terlihat sebuah obeng, sebilah pisau, dan ulekan gado-gado. Ketiganya mengantarkan Ibu Surti menjadi penghuni seumur hidup penjara wanita. Ia lolos dari hukuman mati karena media massa bertubi-tubi mewartakan kisah sedihnya yang membuat pembaca bersimpati. Mungkin juga bagi jaksa dan majelis hakim.


ITU kisah yang kudengar dari mulut Bu Surti ketika aku baru masuk sel busuk ini dua pekan lalu. Saat itu aku heran bagaimana mungkin perempuan dengan wajah sepasrah Bu Surti bisa menghilangkan dua nyawa sekaligus. Maka dari mulutku meluncur sederet tanya yang tak dapat kucegah.

"Pisau dan obeng itu…?" Suaraku tersangkut di tenggorokan.
"Pisau, obeng, dan ulekan itu," Bu Surti meralat ucapanku, "tiba-tiba saja muncul di kepala seperti ada yang membisiki."

"Membisiki. Siapa yang membisiki?"
"Ndak tahu. Suara itu bilang mereka harus mati."

"Jadi karena itu ibu mempersiapkan peralatan?"
"Saya ndak mempersiapkan apa-apa. Suara itu yang menggerakkan tangan saya mengambil pisau dan lain-lain."

"Apa katanya?"
"Surti, kau mesti jaga harga dirimu sebagai perempuan."

"Ibu yakin mendengar suara itu?"
"Begitulah yang saya dengar." Wajahnya mengeras. "Saya ndak salah. Gusti Allah mengerti yang saya lakukan."

"Ya Bu," aku tak tahu harus berkata apa lagi. "Hanya Gusti Allah yang bisa mengerti apa yang ibu dan saya lakukan."
"Memangnya apa yang Nak Nila lakukan?"

"Panjang ceritanya, Bu."
"Kasihan sekali kamu semuda ini sudah hidup di penjara. Wajahmu cantik, badanmu bagus. Pasti banyak lelaki yang ingin jadi suamimu."

Aku seperti mendapatkan ibu baru, sehingga aku merebahkan diri di badannya yang sangat lebar. Pada saat yang sama aku baru sadari bau tubuhnya yang bacin. Rasa mual langsung menggelegak. Aku muntah di hari pertamaku di sel. Bu Surti kembali mengelus rambutku dengan ramah. "Memang begitu kalau pertama kali di penjara. Tubuh Nak Nila masih kaget."

Aku membisu. Kulihat ratusan jarum mulai terarah pada kepalaku. Membuatku kelonjotan, membuat Bu Surti ketakutan.

"Astaghfirullah, nyebut Nak. Nyebut. Kamu kemasukan." Kudengar suara Bu Surti yang panik, tapi tak bisa kujawab. Seorang sipir melongok dari balik terali lalu membuka pintu sel. Ia mengunci badanku sembari tangannya berusaha meremas dadaku. Kurang ajar!

Aku mencoba meloloskan diri dari cengkeramannya, dan berlari ke sudut dinding, menjadikan kepalaku sebagai pendulum. Kalau sudah begini, tidak lama lagi aku akan melihat seorang gadis cantik atau perjaka tampan. Persis seperti diriku, hanya lebih cantik atau lebih tampan. Aku tak tahu. Kulitnya putih bercahaya, giginya sebersih mutiara, dan kata-katanya sesegar embun pertama. "Lepaskan kesedihanmu. Kau manusia biasa, Nila, di mana tangis sama terhormatnya dengan tawa. Di mana cemas sama berharganya dengan bahagia. Hanya jiwa-jiwa rapuh yang membiarkan tangis dan cemas tersembunyi di balik wajah bahagia. Lepaskan semua bebanmu."

Lalu tangannya yang lampai menjulur ke arahku. Tangan itu kusambut sepenuh rindu, kuciumi. Setengah jam kemudian aku dapati diriku terkulai di atas kasur. Lelah, terkuras. Dan sisa pening yang tersangkut seperti bonggol pohon di bendungan air.

"Tidur saja Nak Nila. Tadi kamu menjedotkan kepala berkali-kali."
Suara Ibu Surti lagi! Mengapa aku harus berbagi sel dengan makhluk tambun yang cerewet ini? Bedebah!
***
KINI gadis cantik atau lelaki tampan, dengan kulit seputih cahaya itu datang lagi menjulurkan tangannya kepadaku. "Apa kabarmu hari ini, Nila?"
"Buruk, aku merasa sedih dan bodoh."
"Mengapa? Dulu kau mahasiswi terpintar di kampus, bukan?"

"Ya."
"Lalu?"

"Lalu aku terpikat omongan lelaki."
"Bukankah wanita selalu terpikat bual lelaki, Nila?"

"Omongan lelaki ini lebih membuai dari semua lelaki yang kukenal. Aku sama sekali tak berkutik bila harus bertukar jawab dengannya."
"Berdiskusi maksudmu?"

"Kami tak pernah diskusi. Dia yang membuat keputusan, aku yang menjalani.
Selalu begitu."
"Bukankah dari kecil nilai-nilai seperti itu yang kau pelajari?"

"Ya, tapi aku tak menyangka bahwa dia berubah menjadi kemutlakan itu sendiri. Dia menjadikanku seonggok daging tak bernyawa."
"Mengapa kau berpikir seperti itu, Nila?"

"Aku selesaikan kuliah dalam 7 semester, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tapi tak pernah berangkat karena telanjur dijadikan sapi perah di rumah. Aku seharusnya bahagia, dengan suami dan anak yang lucu. Tapi ternyata tidak."

"Kamu sih masih percaya bahwa tugas perempuan cuma di rumah?"
"Aku tidak keberatan. Ibuku dulu juga di rumah, tapi beliau punya kehidupan meski pendidikannya tidak setinggiku."

"Apa maksudmu?"
"Aku hidup tapi tidak punya kehidupan. Hidup macam apa ketika orang yang menjalaninya tak bisa memilih corak yang diinginkan?"

"Kalau begitu kamu tunjukkan bahwa kamu bukan perempuan lemah."
"Alasanku selalu bisa dilumpuhkannya."

"Aku tak bilang harus kau lakukan dengan kata-kata."
"Maksudmu?"

"Kata-kata hanya bagi orang yang mengerti, Nila."
"Aku tidak mengerti."

"Kamu mengerti, Nila. Kamu biarkan belenggu penindasan menggari pikiranmu, semangatmu. Kamu sendiri yang memilih untuk bekerja sama dengan kelicikan suamimu, menjadikan dirimu sebagai hamba, sementara dia paduka raja."

"Kakiku terhambat."
"Begitu juga kaki anakmu kelak."

"Aku ingin kehidupan anakku jauh lebih baik dariku."
"Jangan bermimpi, Nila! Lihat apa yang diberikan suamimu sekarang. Ia hanya menafkahimu dengan kata-kata. Masa depanmu suram. Masa depan anakmu? Nol besar!"

"Jangan membuatku tambah sedih."
"Aku hanya ingin kamu melihat kenyataan."

"Kenyataan ini terlalu pahit."
"Akan begini terus jika kamu tidak mengubahnya. Anggaplah kamu kuat mengalami semua derita hidup. Tapi anakmu? Dia tak pantas menderita karena kesombongan ayahnya dan kepasrahan tolol ibunya."

"Aku tidak tolol!"
"Karena itu anakmu harus dibebaskan dari penderitaan."

"Caranya?"
"Kamu bukan orang bodoh, Nila. Kamu tahu bagaimana caranya membuat anakmu mengecap kebahagiaan sejati selamanya."

"Tidak mungkin. Aku tak bisa berpisah dari anakku."
"Dungu! Kau rela membiarkan anakmu terus menderita dengan cara hidup ayahnya yang selalu mengekang di semua hal?"

"Bagaimana aku bisa menghadapi suamiku nanti?"
"Bebaskan juga suamimu dari belenggu kesombongannya."

"Cintaku melebihi segala kesombongannya."
"Bodoh kau!"

"Aku tahu, kadang-kadang kelakuannya sudah tak bisa ditoleransi."
"Bodoh kau!"

"Aku mengerti. Sekarang saatnya bersikap lebih tegas."
"Bodoh kau!"

"Akan kulawan kata-katanya."
"Bodoh kau!"

"Aku tidak akan taat lagi pada kata-katanya."
"Bodoh kau!"

"Keparat! Mengapa kau terus-menerus membodoh-bodohiku. Aku tidak bodoh, aku tidak takut. Aku akan melenyapkannya dan menentukan jalan hidupku sendiri selamanya."
"Pintar kau!"
DUA orang penjaga kembali masuk sel. Mereka mendorong tubuhku ke dinding. Aku lihat Bu Surti terengah-engah. Ia mengelus lehernya yang mulai dihiasi titik-titik darah. Ujung kuku tanganku ngilu. Seorang penjaga bertubuh tonjang dengan cepat menelikung tanganku dan memborgolnya.

Mereka memutar tubuhku, dan mendorongku berjalan keluar sel. Penjaga dengan tubuh tinggi besar itu menjambak rambutku sehingga kepalaku terdongak. Aku melewati sel-sel lain yang riuh. Ada yang melemparkan sisa permen karet, ada yang meludahiku. Seorang perempuan gendut lainnya yang kutahu salah seorang sahabat Bu Surti memakiku dengan suara paraunya yang lebih buruk dari piring kaleng.

"Dasar sundel! Kalau mau bunuh suami, bunuh aja suami lu. Jangan anak lu ikut-ikutan dijagal! Ibu model apa lu! Katanya dulu mahasiswi teladan. Makan tuh sekolahan. Gembel aja nggak ada yang tega kayak lu!"
Suaranya disambut celetukan penghuni sel lain, bertalu-talu.

"Mati! Mati! Mati! Hukum mati aje Pak Sipir! Biar nyaho’!"
"Ibu terkutuk!"

"Dedemit dia kali, bukan orang!"
Tiba-tiba ratusan jarum yang biasa menghujani kepalaku datang lagi. Kali ini bersama gadis cantik dengan kulit seputih cahaya yang tersenyum di ujung lorong, melambai-lambaikan tangannya. "Anakmu sudah terbebas dari penderitaan dunia. Suamimu sudah menemui hukuman yang pantas atas kesombongannya. Kamu perempuan hebat, Nila. Kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri."

Badanku kembali gemetar, berayun entah ke mana. Aku tak bisa menghentikannya. Kepalaku kembali menjadi pendulum. Sipir itu menjerit. Seseorang sudah jelas berkuasa atas kepalaku sejak lama. Hanya aku tak tahu siapa. ***

Jakarta, 21 Juni 2006
Catatan: Nyaho’ = kapok, jera.