Senin, 08 Juni 2015

Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta pada Laut



Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta pada Laut (Terjemahan)

Cerpen Angeles Mastretta 
Dimuat di Media Indonesia 05/22/2005  

PADA suatu hari Natalia Esparza, seorang perempuan berkaki pendek dengan sepasang buah dada bundar, jatuh cinta pada laut. Ia tak tahu kapan tepatnya kerinduan pada samudra yang jauh itu muncul. Namun, rasa itu datang dengan semacam kekuatan yang membuatnya mempersetankan les piano yang disukainya. Ia juga jadi amat menyukai Karibia, sebab dari Karibia leluhurnya datang seabad silam, dan dari sanalah apa yang disebutnya serpihan kesadaran yang hilang telah memanggilnya.
Panggilan laut memberinya semacam kekuatan yang tak bisa dicegah oleh ibunya sekalipun. Ibunya memohon agar ia menahan kegilaannya hingga saat pepohonan almond meretas, hingga taplak meja yang disulam untuk perkawinan kakak perempuannya selesai, hingga ayahnya mengerti bahwa bukan pelacuran atau kebosanan, atau penyakit jiwa tak tersembuhkan yang tiba-tiba saja membuatnya ingin pergi.
Natalia tumbuh dalam bayangan gunung-gemunung. Ia biasa memerhatikan gunung-gunung itu dengan teliti siang dan malam. Ia tahu persis lipatan-lipatan dalam dada Putri Tidur itu dan lereng yang menudungi puncak gunung berapi Popocatepetl. Ia selalu hidup di daratan kegelapan dan langit dingin, membakar gulali di atas api dan memasak daging berhias saus warna-warni. Ia makan dengan piring berhias, minum dari gelas kristal, dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan hujan, mendengarkan doa-doa ibunya dan dongeng-dongeng kakeknya tentang naga dan kuda bersayap. Namun, ia mempelajari laut di siang hari ketika beberapa lelaki dari Campeche lewat untuk menikmati kue dan cokelat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota yang dikelilingi samudra warna-warni.
Tujuh warna biru, tiga warna hijau, satu warna emas, semuanya ada di laut. Perak yang tak seorang pun bisa membawanya ke luar negeri, semuanya berada di bawah naungan langit berawan. Malam menantang keberanian kapal-kapal, pagi seperti sebuah impian kristal, tengah hari cemerlang seperti gelora berahi.
Di sana, pikirnya, para lelaki pasti berbeda. Mereka yang tinggal dekat laut bukanlah para pemilik pabrik atau pedagang kaya atau pemilik perkebunan atau seseorang yang bisa menjaga cahaya tetap menyala sepanjang hidupnya. Pamannya dan ayahnya telah banyak berbicara tentang bajak laut, tentang Don Lorenzo Patino, kakek ibunya yang nama aliasnya adalah Lorencillo. Ia datang ke Campeche dengan kapalnya sendiri. Telah banyak yang dikatakan tentang tangan-tangan kasar dan tubuh-tubuh ajaib yang ditempa matahari dan angin, maka ia merelakan kepergian para lelaki itu tanpa rasa sesal. Ia akan tinggal dengan paman-pamannya, ibunya berharap. Sendirian, seperti kambing betina keranjingan, tebak ayahnya.
Ia bahkan tak tahu jalan. Natalia hanya ingin pergi ke laut. Dan, di laut tibalah ia, setelah perjalanan panjang ke Merrida dan pertemuan dengan dua nelayan yang ditemuinya di pasar.
Mereka adalah seorang lelaki tua dan seorang lelaki muda. Orang tua itu seorang perokok yang banyak omong. Yang muda bisa dibilang pangkal segala kegilaan ini. Bagaimana mungkin mereka bisa kembali ke Holbox dengan perempuan ini? Tetapi, bagaimana mungkin mereka meninggalkan perempuan ini?
"Kau menyukainya," orang tua itu berkata kepada yang muda, "dan ia ingin datang kemari. Tak kaulihatkah betapa ia ingin datang kemari?"
Natalia menghabiskan pagi hari dengan duduk-duduk di tempat penjualan ikan di pasar, mengawasi lelaki muda yang menjual makhluk-makhluk lembut berdaging putih, makhluk-makhluk aneh, sama anyir dan sama indahnya dengan laut itu sendiri. Natalia bergayut di bahu lelaki itu.
Hari pertama mereka berjalan tanpa henti, Natalia terus-menerus bertanya mengapa pasir di pantai seputih gula dan malam sepanas alkohol. Sesekali ia berhenti untuk menyeka kakinya dan mereka mendapat kesempatan untuk meninggalkannya jauh di belakang. Lalu Natalia melepas sepatunya dan berlari, diiringi kutukan si lelaki tua.
Mereka tiba esok siangnya. Natalia seakan-akan tak percaya. Dia berlari ke air, memburu ke depan dengan sisa kekuatannya, dan mulai meneteskan air matanya pada air yang asin. Kakinya, lututnya, otot-ototnya terasa sakit. Wajah dan bahunya tersengat matahari. Harapannya, hati dan rambutnya terasa sakit pula. Mengapa ia menangis? Bukankah berendam di sini adalah hal yang paling ia inginkan?
Perlahan hari mulai gelap. Sendirian di pantai tak berujung, ia menyentuh kakinya dan menemukan bahwa kaki itu belum berubah menjadi ekor ikan duyung. Angin lembut bertiup, mendorong ombak ke pantai. Dia berjalan di tepi laut, mengejutkan nyamuk-nyamuk kecil yang berpesta di lengannya. Di dekatnya adalah lelaki tua itu, matanya lenyap dalam mata Natalia.
Ia melemparkan diri dengan pakaiannya yang basah ke atas kasur putih dari pasir dan merasakan lelaki tua itu kian mendekat. Jemari lelaki itu menyentuh rambutnya dan ia berkata pada Natalia jika ia ingin tinggal, ia harus tinggal bersamanya karena yang lain telah memiliki perempuan.
"Aku akan tinggal bersamamu," katanya, lalu jatuh tertidur.
Tak seorang pun tahu bagaimana kehidupan Natalia di Holbox. Dia kembali ke Puebla enam bulan kemudian dan tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia menyebut dirinya janda Uc Yam.
Kulitnya cokelat dan keriput, tangannya kasar, dan tubuhnya memancarkan hawa aneh penuh rasa percaya diri. Dia tak pernah menikah, juga tak pernah menginginkan lelaki. Dia lalu belajar melukis, dan warna biru dalam lukisan-lukisannya membuatnya terkenal di Paris dan New York.
Namun, ia tetap berumah di Puebla. Terkadang di senja hari, sambil mengamati gunung-gemunung, mimpi-mimpinya mengembara ke laut.
"Sesungguhnya, setiap orang adalah milik tempat asalnya," kata Natalia, seraya melukis dengan tangannya yang tua, sepasang matanya tampak kekanak-kanakan. "Karena, suka atau tidak, ke mana pun kau pergi, suatu saat mereka akan mengirimmu kembali pulang..."

Ziarah



Ziarah

Cerpen Sanie B. Kuncoro
Dimuat di Jawa Pos 04/11/2010  

Apakah yang akan kita temukan pada sebuah ziarah?

Pada masa kecilku dulu, nenek selalu mengunjungi beberapa makam pada sebuah bulan tertentu. Makam-makam itu terbuat dari batu granit berbentuk tapal kuda, dengan gundukan tanah berumput di bagian tengah. Bongpay, demikianlah bangunan makam itu disebut. Di bagian depan, semacam altar, terpasang batu nisan terbuat dari marmer dengan tulisan China. Berbaris menurun huruf China itu, tak kupahami satu huruf pun. Bagiku, huruf itu lebih serupa potongan garis yang tak lurus, melengkung indah dan saling bertautan membentuk kelompok-kelompok kecil, yang membariskan diri sedemikian rupa. Itulah huruf kanji.

''Merekalah leluhur kita, Mak Co dan Khong Co,'' begitu nenek memperkenalkan dan membacakan nama itu satu per satu. Jemari keriputnya menelusuri tiap pahatan huruf, kadang disertai dengan getar yang samar serta suara yang tercekat lirih.

''Itu namaku,'' katanya kemudian ketika sampai pada barisan huruf paling bawah. Huruf itu berwarna merah, sementara huruf lain berwarna emas.

''Mengapa huruf nenek berbeda warna?'' tanyaku.

''Sebagai pertanda bahwa pemilik nama itu masih hidup. Nanti suatu kali, mereka akan mengubah warna namaku serupa yang lain, bila saatnya tiba,'' jawab nenek dengan nada makin melembut di akhir kalimat.

Aku tak terlalu paham ketika itu. Usiaku masih dalam hitungan sebelah jari tangan dan belum terpahamkan dalam diriku makna yang tersimpan pada kalimat ''bila saatnya tiba''. Bahwa penggalan kalimat itu merupakan metafora dari sebuah kematian. Tak pula kumiliki pengertian konsep kematian manusia. Kematian yang saat itu kutemukan adalah matinya nyamuk, semut, dan kecoak. Itu adalah pembinasaan yang kuinginkan karena kehadiran makhluk-makhluk itu sangat menggangguku. Gigitan nyamuk memunculkan bentol dan gatal pada kulitku, dan semut kerap mengerubungi permenku hingga membuat siapa pun tak hendak mengulum permen warna-warni itu lagi.

Kematian pertama yang kutangisi adalah ketika burung kenariku tergolek kaku di sangkarnya pada suatu pagi. Namun belum lama aku tersedu, ayah datang dengan kenari yang serupa di sangkar baru. Dan tangisku tak berlanjut.

Kenari baru itu mementahkan rasa kehilangan yang sempat mengaliriku oleh sebuah kematian. Maka, tak kupahami arti melirihnya suara nenek ketika mengatakan sebuah waktu yang akan tiba baginya.

Tradisi ritual ziarah itu selalu nenek lakukan pada suatu masa tertentu. Itu adalah yang disebut masa Cheng Beng, masa pada hari ke-9 di bulan ke-3 Saa Gwee pada perhitungan penanggalan China. Diyakini itu adalah suatu periode ketika penguasa langit membuka pintu alam lain di mana para arwah tinggal, sehingga arwah para leluhur bisa kembali ke bumi untuk bertemu kerabatnya yang masih hidup. Karena itulah ziarah kubur dilakukan pada bulan itu.

Oleh karena itu, nenek selalu membawa beberapa sajian tertentu, yang merupakan sajian kesukaan para mendiang. Sajian itu ditaruh pada beberapa mangkuk kecil, lengkap dengan sumpitnya dan diletakkan di depan batu nisan. Nenek kemudian menyalakan dupa dan melakukan sembahyang dengan gerakan hormat yang takzim. Sojah, begitulah gerak penghormatan itu dinamakan.

Lalu sesudah itu dinyalakan beberapa batang dupa untukku.

''Kau juga harus sembahyang, perkenalkan dirimu pada para leluhur kita,'' katanya sembari mengarahkan tangan kecilku menggerakkan dupa. Itu adalah sebuah gerak berupa ayunan kecil mengarah ke atas.

''Mak Co dan Khong Co, ini aku datang,'' bisik nenek memintaku untuk mengikuti ucapannya, ''Berilah aku berkat, bantulah membuka pintu rezeki untukku.''

Kulakukan semua tuntunan itu walau sesungguhnya tidak kutemukan apa pun dalam ritual itu. Tidak kurasakan kesinambungan ingatan apalagi perasaan terhadap leluhur yang tertanam dalam makam-makam besar nan bersih bernisan batu marmer itu. Kutahu sosok mereka melalui foto-foto hitam putih yang telah pudar warna. Tak kurasakan keterkaitan perasaanku dengan mereka, melainkan kesinambungan garis darah semata.

Sesungguhnya, gerangan apa yang akan ditemukan dalam sebuah ziarah?

Kulakukan tradisi itu berulang-ulang tanpa kutemukan jawaban apa pun. Hingga pada suatu ketika. Itu adalah sesudah nenek tidak terbangun lagi dari tidurnya pada suatu pagi.

Nenek selalu mengatakan bahwa beliau akan berangkat pada suatu pagi. Baginya, itu adalah waktu keberangkatan yang terbaik. Mengapa? Karena ada tiga rezeki dalam sehari, yaitu rezeki sarapan, makan siang, dan makan malam. Dengan berangkat dini hari sebelum masa sarapan, maka artinya nenek meninggalkan seluruh keutuhan rezekinya pada pewarisnya. Tanpa merenggut satu bagian pun. Demikianlah filosofi waktu kematian yang diyakini nenek dan dipercayanya dengan sungguh-sungguh.

Aku menangis tersedu berhari-hari namun ayah tak juga membawa nenek yang ''baru'', seperti saat dibawanya kenari baru penghenti tangisku. Lalu nama nenek di batu nisan leluhur itu berubah warna, bahkan kemudian nenek memiliki batu nisan marmernya sendiri dengan namaku ada di barisan paling bawah.

Lalu setiap kali bulan Ceng Beng tiba dan kulakukan ritual ziarah, maka yang kutemukan kemudian adalah jejak-jejak perjalanan pada sebuah masa silam. Seakan kulalui sebuah jalur perjalanan yang pernah kutelusuri pada suatu ketika, yang kuhafal setiap kelokan dan persimpangannya. Dan ketika kaki melangkah menjejaknya, maka setiap langkah menghadirkan kembali ingatan-ingatan yang berserak. Itu adalah ingatan tentang petuah yang dituturkan dengan lembut, tentang pijatan yang lunak pada kaki setiap malam menjelang tidur, tentang genggaman jemari yang menuntun. Jemari yang keriput namun menyimpan hangat yang tangguh. Jemari nenek.

Kemudian tahulah aku, itulah sesuatu yang bernama kenangan.

Kenangan yang setiap kali menempatkan aku pada suatu ketika pada sebuah masa yang telah silam dan hendak kujelajahi sampai pada sudut-sudut terjauhnya. Seakan-akan ingin kumiliki kembali masa itu, sebuah masa yang selalu membuatku ingin kembali menelusurinya. Namun waktu selamanya tidak pernah kembali, maka kemudian di situlah rinduku bermuara. Tentang hal-hal yang tak selesai, tentang kalimat yang tak terucap, tentang perasaan yang tak terungkap.

Maka, kemudian kutemukan tentang arti keberadaan seseorang. Bahwa sesungguhnya keberadaan itu lebih nyata, makin nampak justru ketika seseorang telah pergi. Lalu kerinduan itu mengaliriku, berbaur dengan kepedihan yang menikam. Begitu kuat aliran itu, membuatku sungguh ingin kembali pada sebuah masa, pada suatu ketika di masa lalu.

Setiap kali kulakukan ziarah, aku seakan tak ingin beranjak dari tempat itu. Mengusap nisan marmer, menelusuri lekuk huruf nama nenek, seakan serupa dengan menelusuri tonjolan urat pada jemarinya yang keriput. Kutemukan kembali rasa hangat yang menenangkan itu, meski tak termungkiri marmer itu dingin belaka. Tapi sungguh ada rasa yang entah dari mana datangnya, perasaan bahwa nenek sedang berada di sekitarku, entah pada sisi sebelah mana.

Dulu sekali, di masa kecilku, setiap kali aku harus buang air di tengah malam, maka nenek akan berjaga di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Lalu dia akan bersenandung sembarang lagu, sekadar untuk meyakinkanku bahwa dia ada dan tidak meninggalkanku.

Rasa itulah yang setiap kali menghampiriku kini dalam setiap ziarahku kepadanya di bulan Cheng Beng. Semacam rasa ditenangkan kembali karena beliau berada di dekatku. Sungguhkah nenek benar-benar kembali menghampiriku? Ataukah itu sekadar romantisme jejak kenangan yang seakan ditelusuri ulang dalam sebuah ritual ziarah?

Kutemukan jawabannya pada suatu ketika.

''Pernahkan berpikir tentang siapakah di antara kita yang akan pergi terlebih dahulu?'' tanyaku suatu ketika pada seseorang, yang kepadanyalah kusandarkan hatiku.

''Aku selalu ingin kita akan berangkat bersama,'' jawab kekasihku dengan sepenuh keyakinan.

''Tidak banyak hal yang terwujud sesuai keinginan. Bahkan pasangan seabadi Romeo-Juliet pun harus bersimpang waktu.''

''Itu karena Shakespeare tahu bagaimana harus mengabadikan kesedihan pembacanya. Kenangan pembaca justru makin melekat ketika Romeo dan Juliet masing-masing harus mengalami tragedi kematian pasangannya. Romeo mengira Juliet sungguh mati dalam kematian sementaranya, dan Juliet melihat kematian Romeo yang sesungguhnya.''

''Berharap saja bahwa sang Pemilik Hidup tidak sedang ingin dramatisasi serupa itu saat memberangkatkan kita.''

''Aku hanya mau meninggalkan, bukan sebaliknya, maka aku akan berangkat terlebih dahulu,'' kataku.

Kekasihku berpaling, seakan tak hendak mendengar perkataanku.

''Bila itu terjadi, apakah kau akan menziarahiku?'' lagi, aku bertanya.

Kekasihku tidak menjawab, melainkan memelukku erat. Pelukan yang sedemikian erat, bahkan lebih dalam dari pelukan kuatnya saat memasukiku.

Seerat itu pula dekapannya ketika aku berangkat pada sebuah pagi. Itu adalah sebuah hari yang begitu muda, ketika kabut masih melayang di depan pintu dan embun pagi belum mengering dari helai dedaunan.

Namun penjemput itu telah menyambangiku, bahkan tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan salam pamit.

Apakah aku sungguh ingin berangkat? Entahlah, pelukan kekasihku masih menghangatkan dan menenteramkan dan pula masih kuinginkan. Namun ketika sang penjemput itu tiba, nyatalah bahwa tak lagi kumiliki hak pilih, apalagi kemampuan untuk menghindar meski hanya penundaan, maka berangkatlah aku.

***

Kutemukan jawaban dari semua ziarahku.

Kekasihku datang. Dibawanya beberapa kuntum melati gambir, agaknya ingin disuntingkannya bunga itu di telingaku, seperti yang kerap kali dilakukannya.

Kusambut dia sepenuh hati, kujemput langkahnya sejak di awal gerbang. Kurebahkan diri pada punggungnya saat dia duduk di samping bongpay. Ah, mengapa tak kudapatkan kehangatan tubuh yang dahulu merambati punggung itu? Kupeluk punggung itu, kucari-cari denyutnya yang tersimpan di dataran itu. Ingin kuhirup alunan napas, yang dahulu pernah kupunya.

Lalu datang ingatan itu, tentang suatu ketika saat kami berbagi denyut dan napas yang sama. Denyut yang terbagi saat mendaki sesuatu, melalui suwung yang magis saat saling memasuki. Napas yang sama dalam ketunggalan, siapa berada di antara siapa? Apakah aku di dalammu, ataukah kau di dalam aku?

Aku terbawa dalam pusaran. Pusaran itu mengalirkanku pada suatu arus. Arus segala masa saat aku bersama seseorang. Diri kekasihku di dalam arus itu, bersama kami dalam pusaran itu, berputar serupa spiral. Berpeluk erat aku padanya, bersandar penuh karena begitu kuat pusaran itu mengayun dan menggerus.

Ada yang memudar kemudian. Dirimu kekasih atau justru aku sendiri?

Kekasihku beranjak, terlepas dari dekapanku. Aku terhuyung berpegang pada pelukan yang goyah.

''Jangan pergi,'' seruku menghadang langkah menjauhnya, ''Bahkan melati gambir itu belum kau sematkan di rambutku.''

Langkahnya tak terhenti. Aku memburu, gerakku bergegas serupa melayang.

Dia berhenti sesaat, menengok ke belakang seakan mencari sesuatu. Terhela napasnya kemudian saat yang ditemukannya kekosongan belaka. Matanya nanar mendapati melati gambir bergeming tak terjamah.

''Kembalilah padaku,'' aku memohon, bergema permintaanku, terpantul dari helai daun-daun yang gugur melayang. Sampaikah salah satu pantulan itu padamu?

Di kejauhan, sehelai daun menjatuhi pundaknya. Bergulir, kemudian rebah di ujung kaki berbalut sepatu.

Lagi aku akan memanggil, kucari daun gugur melayang. Namun gelengan kepala nenek, serupa larangan tak terbantah.

''Mengapa?'' tanyaku.

''Pusaran masamu dengannya telah selesai. Dirimu kini telah menepi dari putaran, sementara dia akan meneruskan sejarahnya sendiri.''

''Tapi padanya kutemukan denyut nadi dan napas yang pernah kupunya.''

''Itulah ruang kosong saat sejarah bersimpang jalan. Tertemukan saat ziarah, meski tidak selalu.''

Itulah jawab dari semua ziarahku.

Adalah tidak kurasakan apa pun pada ziarah Mak Co dan Khong Co, sementara ada yang tertinggal saat usai menziarahi nenek. Adalah karena tak kumiliki persilangan sejarah ataupun pertemuan masa diriku dengan mereka, seperti yang terpahat dalam sejarah waktuku bersama nenek.

Inilah yang ada padaku sekarang. Aku melintas dalam masa pinjaman di dalam hati kekasihku. Aku melayang, rebah di dalam benaknya sesaat lalu pada sebuah ziarah.

Kekasihku memutar tubuh, melanjutkan langkah menjauhnya. Meninggalkan sehelai daun di ujung kaki rebah terabaikan. Mataku terpejam menelusuri kehilanganku, sejauh lorong labirin setengah kekal.

''Ada suatu ketika sejarah bersama itu akan kembali,'' nenek berbisik, lirih menyerupai desir angin yang melata di antara alang-alang, ''Suatu ketika, meski mungkin tak lagi utuh bahkan terperangkap keasingan yang sayup.''

Namun, akankah aku rebah selamanya di dalam benak kekasihku sebagai penghuni tunggal, sama seperti kuhuni ruang hati nenek?

Kusimpan pertanyaan itu. Barangkali akan kutemukan jawabannya pada ziarah selanjutnya.

Tapi Kekasih, akankah selalu tersedia ziarahmu bagiku?

Serupa jemputan nenek di awal keberangkatanku? ***




Zowan



Zowan

Cerpen Bakdi Soemanto
Dimuat di Kedaulatan Rakyat 11/20/2005   

BEBERAPA tahun silam, selesai menghadiri sembayangan di rumah Bu Prapto, gagasan itu tiba-tiba muncul dan langsung menggigit. Tampaknya, yang namanya gagasan, atau yang oleh orang-orang muda di kampungnya sering disebut ide, mempunyai gigi tajam. Buktinya, otaknya serasa digigit. Kalau tidak, sekurangnya gagasan punya tangan dengan jari berkuku tajam. Terasa sekali seperti mencengkeram otaknya. Zowan tak bisa polah. Tak hanya otak yang disandera tetapi juga hati, bahkan suara-suara dari lubuk yang sering membisik pun sepertinya tak hanya dibungkam tetapi diinjak. Apakah gagasan juga punya kaki?

Kadang-kadang, gagasan itu seperti biji salak, keras, mendesak-desak daging salak. Malahan, pada suatu hari Minggu, begitu keluar dari gereja selesai ikut dalam bojana ekaristi, ide itu berubah menjadi sesuatu yang bagaikan batu ginjal. Sakit sekali. Tetapi ia tidak tahu pada bagian tubuh mana yang sakit. Mungkin, batu bergirigi itu ngendon dalam rohnya. Kotbah pastor tentang cinta kasih antara suami dan isteri menambah sakit dan membuatnya mau muntah.

Dua puluh tahun lalu, tatkala ia baru menikah dengan Zrie, tak terbayang ia akan menderita penyakit demikian aneh. Disebut penyakit aneh karena beberapa dokter yang dikunjunginya mengatakan bahwa Zowan waras-wiris alias sehat walafiat. Enam orang ahli pengobatan alternatif hanya mengatakan bahwa hendaknya Zowan lebih banyak berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Lebih banyak membantu orang-orang duafa, termasuk mereka yang dulu disebut-sebut Rama Mangunwijaya dengan istilah kaum lemah-miskin. Zowan mengangguk. Dalam hati kecil ia berkata bahwa sudah banyak yang dilakukannya buat mereka. Mungkin malahan banyak sekali sampai mengundang kritik dari tetangganya. Tetapi, penyakit itu nggak mau hilang.

Beberapa orang psikiater menganjurkan hendaknya ia mau berterus-terang menjelaskan gagasan atau ide apa yang tersimpan dalam benaknya. Zowan menolak, ‘’tidak. Jangan!’’. Bahkan, kepada sahabat karibnya sekalipun ia tidak bisa berbagi. ‘’Ini rahasia rumah tangga saya.’’ Sahabat itu mendesak dengan gaya seorang psikiater, ‘’kalau kau simpan begitu bisa parah penyakitmu.’’ Tetapi Zowan tetap saja bersikukuh. Ia tidak ingin gagasan itu diketahui orang. Bahkan anaknya sendiri pun jangan sampai tahu. Apalagi kakaknya yang suka banyak puasa. Kalau sampai ketrucut dan kakak itu tahu, pasti langsung akan bereaksi, ‘’Nah lu... Apa saya bilang dulu. Rasain sekarang. Perempuan cantik dengan tubuh ramping dan bibir seperti itu, jelas... Apa saya bilang dulu. Celakanya lagi, agamamu melarang kamu menceraikan isterimu. Rasain!’’ Dan Zowan hanya akan thenger-thenger.

Semua yang dikatakan kakaknya memang benar. Sungguh titis tebakannya. Tatkala nebak suami si Zuli juga pas sekali. Kakaknya bilang, ‘’calon suamimu itu lelaki sombong tetapi tidak bertanggungjawab.’’ ‘’Lho, kok tahu?’’ Zuli menyergah. ‘’Ah, gampang saja. Dari bentuk telinga dan duduknya hidung sudah kentara.’’ ‘’Tapi kan tidak ada buktinya.’’ Zuli mengeyel. Ia memang jagoan ngeyel. ‘“Tentu saja belum.’’ Jawab kakak Zowan. ‘’Tapi akan dengan jelas kelihatan setelah anakmu mulai besar.’’ Kata kakak itu. Dan sungguh. Dan Zuli, seperti Zowan, Cuma bisa thenger-thenger. Nasi sudah menjadi bubur. Doyan tak doyan ya harus dimakan.

Malam itu, ide dalam benaknya makin kuat dan semakin kuat menekan. Orang-orang kampung, misalnya Nisar, Monyan, Endo, Jayeng, Lenges dan beberapa yang lain pada kumpul di emperan rumah Zowan yang mewah. Ini adalah giliran Zowan menerima mereka setiap malam selama satu minggu. Di kompleksnya ada giliran pos ronda.

Bulan-bulan sebelumnya, kalau ada giliran seperti itu, Zowan hanya menemani mereka barang lima belas menit, paling lama setengah jam. Sesudah itu, sebagai tuan rumah Zowan diwakili Sugi atau Pak Wadi. Tetapi malam itu, Zowan begitu kesepian. Sejak siang pulang kerja, Zowan merasa sangat tidak kerasan di rumah. Ia menyaksikan perilaku isterinya sangat mengerikan. Apa yang pernah diramalkan kakaknya menjadi sangat benar.

Sejak ia menginjakkan kaki setelah turun dari mobil, pagi tadi, Zrie sudah membentaknya. “Sepatumu kotor. Masak nggak tahu. Babutnya kan mahal. Yang beli kan mas sendiri. Aku ini apa. Hanya memelihara. Supaya baik. Supaya terpandang. Menghargai isteri sedikit saja kok susah...” Zowan gugup. Mulutnya terbuka tapi tak keluar kata. “Lha, baru diperingatkan begitu saja sudah mau marah. Sedikit-sedikit marah. Tadi pagi, kopi kurang manis saja sudah mau marah...” Zowan terduduk. Ia ingin bertanya, “mana marah saya”. Namun, sebelum kata diucapkan, senapan mesin di mulut isterinya sudah memberondongkan pelurunya. “Tentu saja kamu tidak sadar saat kamu mau marah. Tapi aku isterimu. Sudah dua puluh tahun jadi isterimu. Sudah tahu watakmu. Menaruh buku saja tidak beres. Anak manja ya kamu waktu kecil...”

Tatkala di meja makan, nafsunya melahap steak bison kegemarannya hilang akibat peluru senapan mesin itu. “Steak ini mahal lho maaas. Si Irin mencarinya sampai ke rumah makan seluruh dunia. Aku ini kan selalu menuruti apa maumu maaas. Coba kalau perempuan lain, sudah minggat kemarin-kemarin. Tapi aku bertahan terus. Tetap setia”. Berhenti sebentar. Mulai lagi: “Sudah makan di kantor? mBok ngomong. Kan sudah tak belikan handphone...” Kritik isterinya dengan nada tinggi. Mana bisa kamu membelikan saya hp. Kata Zowan dalam hati.

Tatkala mau tidur siang, langsung Zrie membentak. “Masang AC jangan tinggi-tinggi. Nanti masuk angin. Lalu ribut...” Kata isterinya dengan suara keras. Mana aku pernah ribut karena sakit, kata Zowan dalam hatinya lagi. “Tentu saja kamu tidak mengakui. Nggak ada laki-laki mengakui kelemahan. Yang lemah selalu perempuan, perempuan, perempuan...” Astagafirullah, gumam Zowan. Kalau saja dia mempunyai alasan, ia ingin lari dari rumah. Tetapi ia selalu ingat pesan Pastor Turangan yang menikahkannya. “Bagaimana pun pula, menceraikan isteri dan menikah dengan isteri baru lebih banyak risikonya ketimbang mempertahankan yang lama. Di samping itu, memang prinsipnya perkawinan kalian tidak boleh diceraikan oleh manusia...”

Tentu masih ada pertimbangan lain: anak-anak. Kalau saja mereka sudah menikah, apa boleh buat. Rama Turangan tidak mengalami bahwa rumah tangga Zowan sudah seperti neraka. Ia pernah mengeluh kepada Direktur Kantor Pusat di Jakarta, Meneer Van Houtten yang orang Belanda itu. “No single day without criticism”. Tidak ada hari tanpa kritik. Kritik itupun kritik yang pedas apalagi diucapkan dengan kata-kata keras. “Kenapa kalian tidak split saja. Kotbah pastor itu kan cuma teori dan imbauan. Realitanya menunjukkan lain. Mau apa?” kata Van Houtten sambil menyeruput air putih pada saat makan siang di rumah makan Mandarijn di Jakarta. “Anak-anak bisa diberi pengertian. Lagi pula, mereka kan sudah mendengar, melihat dan menyaksikan sendiri bahwa ibunya sekejam itu kepada bapak mereka...” kata Van Houtten pelan. Zowan mengiyakan. “Na... kalau begitu, kemasi pakaiannya dan tantang dia ke pengadilan. Dan lagi, dengan cara seperti itu, tetangga-tetangga, pembantu rumah tangga kan sudah pada tahu...” Tanya van Houtten. “Ya” Kata Zowan. “Mereka bisa menjadi saksi perceraian kalian di pengadilan...”

Malam itu, sepi di rumah Zowan tetapi di kepalanya berbagai macam suara berkecamuk. “Sudah jelas kan. Zrie tak hanya sangat menyakitkan. Juga mengundang tanggapan-tanggapan negatif banyak orang. Tak hanya itu. Zrie, sengaja atau tidak, menjatuhkan martabat suaminya di depan umum... Dan itu diucapkan Pak Nolah.” Lalu bagaimana? “Lho, ya sudah. Kalau pastor Turangan melarang kalian diceraikan oleh manusia, biarlah setan yang menceraikannya.” “Maksudmu?” “Ya dihabisi saja. Minta tolong yang tubuhnya kekar itu. Kalau ia mau menghabisi kan bukan manusia lagi. Ia sudah menjadi setan. Tak sembarang setan tetapi bahkan setan alas” kata suara itu tegas. Zowan terbelalak. Di depannya duduk Pak Lenges yang tubuhnya kekar bagaikan tukang pukul. Ia membayangkan tubuh isterinya yang langsing. Sekali injak pasti tamat. Ia bisa minta Lenges membantunya. Masak dengan dua puluh juta, misalnya, ia menolak.

Tapi, bagaimana menghilangkan jejak? Zowan ragu-ragu. Gampang. Zaman sekarang, menghilangkan jejak tindakan jahat banyak cara yang canggih. Yang ketinggalan jaman kan cara melacaknya. Jadi, kagak usah takut...

Zowan mantap. Ia memberi isyarat Pak Lenges untuk masuk ke kamar sebentar. Tanpa repot, Lenges mengikuti Zowan ke kamar. Yang lain terus ngemil menikmati makanan kecil, kopi dan rokok.

“Tutup pintunya pak,” kata Lenges. Zowan kaget. Seperti ia sudah tahu rencananya.

“Jelas. Sudah tahu. Pak Zowan kan mengucapkannya sendiri tanpa sadar sejak tadi...” Zowan kaget. “Tak usah kaget. Bisa tambah dikit honornya. Misalnya tiga lima... Kalau dua puluh terlalu sedikit. Risikonya kan tinggi.”

Zowan kaget. Jadi, ia sudah faham hingga detil.

“Sudah. Tapi begini pak, Bu Zrie juga meminta tolong saya untuk menghabisi bapak. Dan saya menyanggupi malam ini...”

Zowan terbelalak tak bisa ngomong. Bibirnya gemetar.

“Saya minta empat puluh dan Bu Zrie setuju...”

Lampu di seluruh kampung tiba-tiba padam.***