Seorang
Perempuan yang Jatuh Cinta pada Laut (Terjemahan)
Cerpen Angeles Mastretta
Cerpen Angeles Mastretta
Dimuat di Media Indonesia 05/22/2005
PADA suatu hari
Natalia Esparza, seorang perempuan berkaki pendek dengan sepasang buah dada
bundar, jatuh cinta pada laut. Ia tak tahu kapan tepatnya kerinduan pada
samudra yang jauh itu muncul. Namun, rasa itu datang dengan semacam kekuatan
yang membuatnya mempersetankan les piano yang disukainya. Ia juga jadi amat
menyukai Karibia, sebab dari Karibia leluhurnya datang seabad silam, dan dari
sanalah apa yang disebutnya serpihan kesadaran yang hilang telah memanggilnya.
Panggilan laut
memberinya semacam kekuatan yang tak bisa dicegah oleh ibunya sekalipun. Ibunya
memohon agar ia menahan kegilaannya hingga saat pepohonan almond
meretas, hingga taplak meja yang disulam untuk perkawinan kakak perempuannya
selesai, hingga ayahnya mengerti bahwa bukan pelacuran atau kebosanan, atau
penyakit jiwa tak tersembuhkan yang tiba-tiba saja membuatnya ingin pergi.
Natalia tumbuh dalam
bayangan gunung-gemunung. Ia biasa memerhatikan gunung-gunung itu dengan teliti
siang dan malam. Ia tahu persis lipatan-lipatan dalam dada Putri Tidur itu dan
lereng yang menudungi puncak gunung berapi Popocatepetl. Ia selalu hidup di
daratan kegelapan dan langit dingin, membakar gulali di atas api dan memasak
daging berhias saus warna-warni. Ia makan dengan piring berhias, minum dari
gelas kristal, dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan hujan, mendengarkan
doa-doa ibunya dan dongeng-dongeng kakeknya tentang naga dan kuda bersayap.
Namun, ia mempelajari laut di siang hari ketika beberapa lelaki dari Campeche
lewat untuk menikmati kue dan cokelat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota
yang dikelilingi samudra warna-warni.
Tujuh warna biru,
tiga warna hijau, satu warna emas, semuanya ada di laut. Perak yang tak seorang
pun bisa membawanya ke luar negeri, semuanya berada di bawah naungan langit
berawan. Malam menantang keberanian kapal-kapal, pagi seperti sebuah impian
kristal, tengah hari cemerlang seperti gelora berahi.
Di sana, pikirnya,
para lelaki pasti berbeda. Mereka yang tinggal dekat laut bukanlah para pemilik
pabrik atau pedagang kaya atau pemilik perkebunan atau seseorang yang bisa
menjaga cahaya tetap menyala sepanjang hidupnya. Pamannya dan ayahnya telah
banyak berbicara tentang bajak laut, tentang Don Lorenzo Patino, kakek ibunya
yang nama aliasnya adalah Lorencillo. Ia datang ke Campeche dengan kapalnya
sendiri. Telah banyak yang dikatakan tentang tangan-tangan kasar dan
tubuh-tubuh ajaib yang ditempa matahari dan angin, maka ia merelakan kepergian
para lelaki itu tanpa rasa sesal. Ia akan tinggal dengan paman-pamannya, ibunya
berharap. Sendirian, seperti kambing betina keranjingan, tebak ayahnya.
Ia bahkan tak tahu
jalan. Natalia hanya ingin pergi ke laut. Dan, di laut tibalah ia, setelah
perjalanan panjang ke Merrida dan pertemuan dengan dua nelayan yang ditemuinya
di pasar.
Mereka adalah
seorang lelaki tua dan seorang lelaki muda. Orang tua itu seorang perokok yang
banyak omong. Yang muda bisa dibilang pangkal segala kegilaan ini. Bagaimana
mungkin mereka bisa kembali ke Holbox dengan perempuan ini? Tetapi, bagaimana
mungkin mereka meninggalkan perempuan ini?
"Kau
menyukainya," orang tua itu berkata kepada yang muda, "dan ia ingin
datang kemari. Tak kaulihatkah betapa ia ingin datang kemari?"
Natalia menghabiskan
pagi hari dengan duduk-duduk di tempat penjualan ikan di pasar, mengawasi
lelaki muda yang menjual makhluk-makhluk lembut berdaging putih,
makhluk-makhluk aneh, sama anyir dan sama indahnya dengan laut itu sendiri.
Natalia bergayut di bahu lelaki itu.
Hari pertama mereka
berjalan tanpa henti, Natalia terus-menerus bertanya mengapa pasir di pantai
seputih gula dan malam sepanas alkohol. Sesekali ia berhenti untuk menyeka
kakinya dan mereka mendapat kesempatan untuk meninggalkannya jauh di belakang.
Lalu Natalia melepas sepatunya dan berlari, diiringi kutukan si lelaki tua.
Mereka tiba esok
siangnya. Natalia seakan-akan tak percaya. Dia berlari ke air, memburu ke depan
dengan sisa kekuatannya, dan mulai meneteskan air matanya pada air yang asin.
Kakinya, lututnya, otot-ototnya terasa sakit. Wajah dan bahunya tersengat
matahari. Harapannya, hati dan rambutnya terasa sakit pula. Mengapa ia
menangis? Bukankah berendam di sini adalah hal yang paling ia inginkan?
Perlahan hari mulai
gelap. Sendirian di pantai tak berujung, ia menyentuh kakinya dan menemukan
bahwa kaki itu belum berubah menjadi ekor ikan duyung. Angin lembut bertiup,
mendorong ombak ke pantai. Dia berjalan di tepi laut, mengejutkan nyamuk-nyamuk
kecil yang berpesta di lengannya. Di dekatnya adalah lelaki tua itu, matanya
lenyap dalam mata Natalia.
Ia melemparkan diri
dengan pakaiannya yang basah ke atas kasur putih dari pasir dan merasakan
lelaki tua itu kian mendekat. Jemari lelaki itu menyentuh rambutnya dan ia
berkata pada Natalia jika ia ingin tinggal, ia harus tinggal bersamanya karena
yang lain telah memiliki perempuan.
"Aku akan
tinggal bersamamu," katanya, lalu jatuh tertidur.
Tak seorang pun tahu
bagaimana kehidupan Natalia di Holbox. Dia kembali ke Puebla enam bulan
kemudian dan tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia menyebut dirinya janda Uc Yam.
Kulitnya cokelat dan
keriput, tangannya kasar, dan tubuhnya memancarkan hawa aneh penuh rasa percaya
diri. Dia tak pernah menikah, juga tak pernah menginginkan lelaki. Dia lalu
belajar melukis, dan warna biru dalam lukisan-lukisannya membuatnya terkenal di
Paris dan New York.
Namun, ia tetap
berumah di Puebla. Terkadang di senja hari, sambil mengamati gunung-gemunung,
mimpi-mimpinya mengembara ke laut.
"Sesungguhnya,
setiap orang adalah milik tempat asalnya," kata Natalia, seraya melukis
dengan tangannya yang tua, sepasang matanya tampak kekanak-kanakan.
"Karena, suka atau tidak, ke mana pun kau pergi, suatu saat mereka akan
mengirimmu kembali pulang..."