Senin, 08 Juni 2015

Zowan



Zowan

Cerpen Bakdi Soemanto
Dimuat di Kedaulatan Rakyat 11/20/2005   

BEBERAPA tahun silam, selesai menghadiri sembayangan di rumah Bu Prapto, gagasan itu tiba-tiba muncul dan langsung menggigit. Tampaknya, yang namanya gagasan, atau yang oleh orang-orang muda di kampungnya sering disebut ide, mempunyai gigi tajam. Buktinya, otaknya serasa digigit. Kalau tidak, sekurangnya gagasan punya tangan dengan jari berkuku tajam. Terasa sekali seperti mencengkeram otaknya. Zowan tak bisa polah. Tak hanya otak yang disandera tetapi juga hati, bahkan suara-suara dari lubuk yang sering membisik pun sepertinya tak hanya dibungkam tetapi diinjak. Apakah gagasan juga punya kaki?

Kadang-kadang, gagasan itu seperti biji salak, keras, mendesak-desak daging salak. Malahan, pada suatu hari Minggu, begitu keluar dari gereja selesai ikut dalam bojana ekaristi, ide itu berubah menjadi sesuatu yang bagaikan batu ginjal. Sakit sekali. Tetapi ia tidak tahu pada bagian tubuh mana yang sakit. Mungkin, batu bergirigi itu ngendon dalam rohnya. Kotbah pastor tentang cinta kasih antara suami dan isteri menambah sakit dan membuatnya mau muntah.

Dua puluh tahun lalu, tatkala ia baru menikah dengan Zrie, tak terbayang ia akan menderita penyakit demikian aneh. Disebut penyakit aneh karena beberapa dokter yang dikunjunginya mengatakan bahwa Zowan waras-wiris alias sehat walafiat. Enam orang ahli pengobatan alternatif hanya mengatakan bahwa hendaknya Zowan lebih banyak berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Lebih banyak membantu orang-orang duafa, termasuk mereka yang dulu disebut-sebut Rama Mangunwijaya dengan istilah kaum lemah-miskin. Zowan mengangguk. Dalam hati kecil ia berkata bahwa sudah banyak yang dilakukannya buat mereka. Mungkin malahan banyak sekali sampai mengundang kritik dari tetangganya. Tetapi, penyakit itu nggak mau hilang.

Beberapa orang psikiater menganjurkan hendaknya ia mau berterus-terang menjelaskan gagasan atau ide apa yang tersimpan dalam benaknya. Zowan menolak, ‘’tidak. Jangan!’’. Bahkan, kepada sahabat karibnya sekalipun ia tidak bisa berbagi. ‘’Ini rahasia rumah tangga saya.’’ Sahabat itu mendesak dengan gaya seorang psikiater, ‘’kalau kau simpan begitu bisa parah penyakitmu.’’ Tetapi Zowan tetap saja bersikukuh. Ia tidak ingin gagasan itu diketahui orang. Bahkan anaknya sendiri pun jangan sampai tahu. Apalagi kakaknya yang suka banyak puasa. Kalau sampai ketrucut dan kakak itu tahu, pasti langsung akan bereaksi, ‘’Nah lu... Apa saya bilang dulu. Rasain sekarang. Perempuan cantik dengan tubuh ramping dan bibir seperti itu, jelas... Apa saya bilang dulu. Celakanya lagi, agamamu melarang kamu menceraikan isterimu. Rasain!’’ Dan Zowan hanya akan thenger-thenger.

Semua yang dikatakan kakaknya memang benar. Sungguh titis tebakannya. Tatkala nebak suami si Zuli juga pas sekali. Kakaknya bilang, ‘’calon suamimu itu lelaki sombong tetapi tidak bertanggungjawab.’’ ‘’Lho, kok tahu?’’ Zuli menyergah. ‘’Ah, gampang saja. Dari bentuk telinga dan duduknya hidung sudah kentara.’’ ‘’Tapi kan tidak ada buktinya.’’ Zuli mengeyel. Ia memang jagoan ngeyel. ‘“Tentu saja belum.’’ Jawab kakak Zowan. ‘’Tapi akan dengan jelas kelihatan setelah anakmu mulai besar.’’ Kata kakak itu. Dan sungguh. Dan Zuli, seperti Zowan, Cuma bisa thenger-thenger. Nasi sudah menjadi bubur. Doyan tak doyan ya harus dimakan.

Malam itu, ide dalam benaknya makin kuat dan semakin kuat menekan. Orang-orang kampung, misalnya Nisar, Monyan, Endo, Jayeng, Lenges dan beberapa yang lain pada kumpul di emperan rumah Zowan yang mewah. Ini adalah giliran Zowan menerima mereka setiap malam selama satu minggu. Di kompleksnya ada giliran pos ronda.

Bulan-bulan sebelumnya, kalau ada giliran seperti itu, Zowan hanya menemani mereka barang lima belas menit, paling lama setengah jam. Sesudah itu, sebagai tuan rumah Zowan diwakili Sugi atau Pak Wadi. Tetapi malam itu, Zowan begitu kesepian. Sejak siang pulang kerja, Zowan merasa sangat tidak kerasan di rumah. Ia menyaksikan perilaku isterinya sangat mengerikan. Apa yang pernah diramalkan kakaknya menjadi sangat benar.

Sejak ia menginjakkan kaki setelah turun dari mobil, pagi tadi, Zrie sudah membentaknya. “Sepatumu kotor. Masak nggak tahu. Babutnya kan mahal. Yang beli kan mas sendiri. Aku ini apa. Hanya memelihara. Supaya baik. Supaya terpandang. Menghargai isteri sedikit saja kok susah...” Zowan gugup. Mulutnya terbuka tapi tak keluar kata. “Lha, baru diperingatkan begitu saja sudah mau marah. Sedikit-sedikit marah. Tadi pagi, kopi kurang manis saja sudah mau marah...” Zowan terduduk. Ia ingin bertanya, “mana marah saya”. Namun, sebelum kata diucapkan, senapan mesin di mulut isterinya sudah memberondongkan pelurunya. “Tentu saja kamu tidak sadar saat kamu mau marah. Tapi aku isterimu. Sudah dua puluh tahun jadi isterimu. Sudah tahu watakmu. Menaruh buku saja tidak beres. Anak manja ya kamu waktu kecil...”

Tatkala di meja makan, nafsunya melahap steak bison kegemarannya hilang akibat peluru senapan mesin itu. “Steak ini mahal lho maaas. Si Irin mencarinya sampai ke rumah makan seluruh dunia. Aku ini kan selalu menuruti apa maumu maaas. Coba kalau perempuan lain, sudah minggat kemarin-kemarin. Tapi aku bertahan terus. Tetap setia”. Berhenti sebentar. Mulai lagi: “Sudah makan di kantor? mBok ngomong. Kan sudah tak belikan handphone...” Kritik isterinya dengan nada tinggi. Mana bisa kamu membelikan saya hp. Kata Zowan dalam hati.

Tatkala mau tidur siang, langsung Zrie membentak. “Masang AC jangan tinggi-tinggi. Nanti masuk angin. Lalu ribut...” Kata isterinya dengan suara keras. Mana aku pernah ribut karena sakit, kata Zowan dalam hatinya lagi. “Tentu saja kamu tidak mengakui. Nggak ada laki-laki mengakui kelemahan. Yang lemah selalu perempuan, perempuan, perempuan...” Astagafirullah, gumam Zowan. Kalau saja dia mempunyai alasan, ia ingin lari dari rumah. Tetapi ia selalu ingat pesan Pastor Turangan yang menikahkannya. “Bagaimana pun pula, menceraikan isteri dan menikah dengan isteri baru lebih banyak risikonya ketimbang mempertahankan yang lama. Di samping itu, memang prinsipnya perkawinan kalian tidak boleh diceraikan oleh manusia...”

Tentu masih ada pertimbangan lain: anak-anak. Kalau saja mereka sudah menikah, apa boleh buat. Rama Turangan tidak mengalami bahwa rumah tangga Zowan sudah seperti neraka. Ia pernah mengeluh kepada Direktur Kantor Pusat di Jakarta, Meneer Van Houtten yang orang Belanda itu. “No single day without criticism”. Tidak ada hari tanpa kritik. Kritik itupun kritik yang pedas apalagi diucapkan dengan kata-kata keras. “Kenapa kalian tidak split saja. Kotbah pastor itu kan cuma teori dan imbauan. Realitanya menunjukkan lain. Mau apa?” kata Van Houtten sambil menyeruput air putih pada saat makan siang di rumah makan Mandarijn di Jakarta. “Anak-anak bisa diberi pengertian. Lagi pula, mereka kan sudah mendengar, melihat dan menyaksikan sendiri bahwa ibunya sekejam itu kepada bapak mereka...” kata Van Houtten pelan. Zowan mengiyakan. “Na... kalau begitu, kemasi pakaiannya dan tantang dia ke pengadilan. Dan lagi, dengan cara seperti itu, tetangga-tetangga, pembantu rumah tangga kan sudah pada tahu...” Tanya van Houtten. “Ya” Kata Zowan. “Mereka bisa menjadi saksi perceraian kalian di pengadilan...”

Malam itu, sepi di rumah Zowan tetapi di kepalanya berbagai macam suara berkecamuk. “Sudah jelas kan. Zrie tak hanya sangat menyakitkan. Juga mengundang tanggapan-tanggapan negatif banyak orang. Tak hanya itu. Zrie, sengaja atau tidak, menjatuhkan martabat suaminya di depan umum... Dan itu diucapkan Pak Nolah.” Lalu bagaimana? “Lho, ya sudah. Kalau pastor Turangan melarang kalian diceraikan oleh manusia, biarlah setan yang menceraikannya.” “Maksudmu?” “Ya dihabisi saja. Minta tolong yang tubuhnya kekar itu. Kalau ia mau menghabisi kan bukan manusia lagi. Ia sudah menjadi setan. Tak sembarang setan tetapi bahkan setan alas” kata suara itu tegas. Zowan terbelalak. Di depannya duduk Pak Lenges yang tubuhnya kekar bagaikan tukang pukul. Ia membayangkan tubuh isterinya yang langsing. Sekali injak pasti tamat. Ia bisa minta Lenges membantunya. Masak dengan dua puluh juta, misalnya, ia menolak.

Tapi, bagaimana menghilangkan jejak? Zowan ragu-ragu. Gampang. Zaman sekarang, menghilangkan jejak tindakan jahat banyak cara yang canggih. Yang ketinggalan jaman kan cara melacaknya. Jadi, kagak usah takut...

Zowan mantap. Ia memberi isyarat Pak Lenges untuk masuk ke kamar sebentar. Tanpa repot, Lenges mengikuti Zowan ke kamar. Yang lain terus ngemil menikmati makanan kecil, kopi dan rokok.

“Tutup pintunya pak,” kata Lenges. Zowan kaget. Seperti ia sudah tahu rencananya.

“Jelas. Sudah tahu. Pak Zowan kan mengucapkannya sendiri tanpa sadar sejak tadi...” Zowan kaget. “Tak usah kaget. Bisa tambah dikit honornya. Misalnya tiga lima... Kalau dua puluh terlalu sedikit. Risikonya kan tinggi.”

Zowan kaget. Jadi, ia sudah faham hingga detil.

“Sudah. Tapi begini pak, Bu Zrie juga meminta tolong saya untuk menghabisi bapak. Dan saya menyanggupi malam ini...”

Zowan terbelalak tak bisa ngomong. Bibirnya gemetar.

“Saya minta empat puluh dan Bu Zrie setuju...”

Lampu di seluruh kampung tiba-tiba padam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar